Cerpen Teguh Affandi (Lampung Post, 03 Maret 2019)

Jemini dan Tuan Busu Klarten ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Postw.jpg
Jemini dan Tuan Busu Klarten ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post 

KOPI saya tumpah. Bercak hitam mengental di kemeja saya dan beberapa tercecer di taplak meja. Saya benar-benar kaget. Jemini, pembantu saya yang sudah hampir setahun ini bantu-bantu pekerjaan rumah, mendadak minta izin.

Saya amati mata Jemini. Mata Jemini sebagaimana mata orang-orang yang tak bisa mengaburkan kebohongan. Jemini berdiri sedepa di depan saya. Saya masih terdiam, mencerna semua ucapan Jemini yang terasa seperti nasi pera yang tersaji tanpa kuah. Seret dan susah saya telan.

“Kamu beneran mau kawin?” tanya saya. “Betul, Tuan. Saya sudah mantap jiwa raga untuk menikah tahun ini. Calon suami saya orang baik,” Jemini menjawab dengan lancar.

Di satu sisi saya bahagia karena ajaran saya kepadanya untuk percaya diri berbicara dengan siapa saja diterapkan dengan baik oleh Jemini. Tapi, di sudut lain saya sedikit ketakutan. Melepas Jemini keluar rumah sama sedihnya dengan melepas seorang anak perempuan yang akan dipinang orang.

Meskipun saya hanya seorang majikan yang tidak punya hak 100% atas diri Jemini. Ia memang ditakdirkan berkasta setingkat lebih rendah daripada saya, tetapi ia adalah manusia merdeka dalam mengambil keputusan.

Pertama kali saya bertemu dengan Jemini, ketika saya menjemput Garcia, putri saya, usai menghabiskan liburan di rumah nenek dari pihak almarhum istri saya. Garcia sebagaimana anak-anak lainnya menganggap liburan di rumah nenek seistimewa apa-apa yang terjadi di buku-buku pelajaran bahasa Indonesia.

Mobil saya masuk garasi rumah mertua saya dan Garcia cemberut di teras. Wajahnya dijejali bentol-bentol merah habis dihajar aneka serangga. Garcia tanpa babibu langsung masuk mobil tanpa pamit kepada neneknya. Sedangkan saya, sebagai menantunya, harus tetap memberi hormat, minimal menyapa. Saya masuk sebentar dan di sanalah ada Jemini.

“Maafkan kelakuan Garcia, Ibu,” saya mengecup punggung tangan mertua perempuan saya. Aromanya masih sama dengan yang terjadi di saat pertama kali saya berkunjung ke rumah ini untuk meminta anak perempuannya menjadi istri yang kemudian menjadi ibu Garcia.

Meski umurnya tak lama, karena di saat Garcia berusia tiga tahun, truk pembawa galon air menabrak istri saya yang sedang joging sore hari.

Advertisements