Cecep Ecep Yuli Sukmara (Pikiran Rakyat, 03 Maret 2019)

Memilih ilustrasi Alanwari - Pikiran Rakyatw.jpg
Memilih ilustrasi Alanwari/Pikiran Rakyat 

TERIK mentari menyengat seakan membakar ubun-ubun, kupepetkan motorku di kelokan trotoar di bawah naungan pohon ketapang. Langit seperti kehilangan birunya, sementara burung-burung bangau sawah menelusuri rerimbunan.

***

DERU motor menghalus tersalip hiruk-pikuk raungan kendaraan di jalanan. Kudinginkan gerah tubuhku untuk sesaat. Tiba-tiba selularku menggelepar di balik jaketku. Seseorang mengirim pesan singkat. Tak ada catatan nama yang tertulis, hanya deraian angka.

“Mas, cepatlah pulang! Ada berita duka.”

Terkesiap seketika, segera jemariku memijit pet panggilan untuk menelefon balik. Tak ada jawaban, hanya kegaduhan siar-siur menelisik gendang telinga. Lamat-lamat geremang panjatan berbaur isak tangis memisteri di sebrang sana. Matahari tetap tak bergeming membakar hari, acapkali kukipasi wajahku dengan salku. Ada apa gerangan, hingga angankn secepatnya berkelebat melampaui kepulanganku, menyusul pesan singkat mengejutkan di balik nomor tak kukenali.

Sepasang anak muda memekik tertahan manakala kelebat motorku nyaris menyerempet punggungnya. Sumpah serapah pun sayup kudengar, masa bodoh. Setengah jam setelah itu, motorku telah menyelinap di antara kerumunan orang-orang di depan gang. Aku tak hendak membuka helmku, ketika orang-orang dan para tetanggaku menghambur mepet atas kedatanganku.

“Mas, tahu dari siapa?” Tanya istriku termangu-mangu. Kulempar jeketku ke atas meja beranda serta helm kubuka.

“Mamah barusan dari sana, terlalu banyak para pelayat.” Keluhnya. Mendahului bibirku.

“Dari seseorang, Mah.” Kubalikan tubuhku, mengayun langkah seeepat degup jantungku.

“Eh, Si Endu kemana?” Langkahku terhenti, teringat anak lelaki kecilku tak terlihat menyongsong kebiasaannya ketika aku kembali dari bepergian.

“Lagi main layangan bersama teman-temannya.” Sahutnya sembari berlalu ke belakang.

Advertisements