Cerpen Made Adnyana Ole (Kompas, 03 Maret 2019)

Hyang Ibu ilustrasi Adytria Negara - Kompasw.jpg
Hyang Ibu ilustrasi Adytria Negara/Kompas

Di sisi jenazah ibu, satu anak di antara sepuluh anak yang menangis bercerita tentang pisang: Ibu selalu menjinjing sesisir pisang pada setiap sore, melangkah agak terburu di jalan desa, lalu meliuk masuk rumah seseorang.

Di dalam rumah, sisir pisang matang di pohon itu dihadiahkan pada anak-anak. Maka, riang senang memenuhi rumah itu, dan ibu kemudian pulang ke rumah sendiri dengan senyum bahagia.

Ibu melakukan ritual itu setiap sore, saban pulang dari sawah, secara bergantian dari satu rumah ke rumah lain. Dan ibu selalu tepat menebak di rumah mana anak-anak sedang berkumpul, bercerita atau bermain, sehingga ia senantiasa menerima sambutan alami dan getar bahagia ucapan terima kasih, seakan-akan ia berhadapan dengan berpuluh-puluh anak dari buah rahimnya sendiri.

Anak-anak itu datang begitu mendengar ibu meninggal. Berkerumun mereka datang dan menangis, bahkan seorang anak perempuan sesenggukan tak habis-habis hingga tubuhnya bergetar hebat. Di sela sedu-sedan itu, mereka berebutan bercerita—kisah yang sama dengan irama yang beragam tentang pisang. Begitu bangga mereka bercerita dengan sungging bibir lembut dan cerah meski air bening senantiasa deras meluncur dari mata jernih mereka.

Satu anak perempuan seperti sedang menyimpan telaga di matanya sekaligus menyimpan ribuan cerita di kepala dan ia menumpahkan air mata dari telaga matanya sekaligus menumpahkan cerita dengan penuh perasaan.

Ia berkisah tentang bagaimana ibu mendirikan pagar dari berbagai jenis pohon pisang di tepi-tepi sawah, terutama di pinggir petak kecil di sisi jurang, agar tanah tak tergerus saat hujan. Tak ada yang bisa paham bagaimana deret pisang itu ditanam dan dirawat sehingga setiap hari selalu ada sesisir pisang yang matang di pohon dan ibu akan memotongnya setiap sore, hadiah sederhana bagi anak-anak desa.

“Untuk urusan petik pisang, ibu paling lihai. Ia pegang bambu runcing, seperti di film-film perang itu, lalu menusukkannya ke bagian batang pisang agak ke atas. Ditusuk berkali-kali. Tusuk, tusuk, tusuk!” pekik si anak, sembari tetap menangis dengan air mata meleleh pada ranum pipi. Pilu sekaligus lucu.

Anak-anak lain tertawa sekilas, lalu menangis lagi.

Advertisements