Cerpen Eti Nurhalimah (Republika, 03 Maret 2019)

DI Balik Bingkai Formosa ilustrasi Rendra Purnama - Republikaw.jpg
DI Balik Bingkai Formosa ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Aku mendekap ponsel kuno yang kubawa dari rumah, tak kupedulikan angin malam yang dingin membungkus tubuhku hingga menggigil. Sedih, terpukul, dan merasa bersalah. Semua menjadi satu. Ingin kumaki sendiri diri karena menjadi seorang ibu yang tega meninggalkan buah hati dalam kurun waktu bukan seminggu, sebulan, ataupun setahun.

“Sabar, Nduk. Nanti dia juga akan tahu dan mau bicara dengamu di telepon,” hibur Ibu di ujung sana.

Namaku Kinarsih. Aku adalah wanita yang memiiki satu putra dan tengah mengarungi lautan perjuangan di negeri orang. Awal kedatanganku ke Taiwan pada 2011 silam merupakan waktu terberat yang harus kulalui. Beradaptasi dengan lingkungan baru. Sebuah negara yang belum pernah kukunjungi sebelumnya, meski di dalam mimpi. Banyak perbedaan yang harus kupelajari, mulai dari bahasa, adat istiadat, kebudayaan, hingga cara-cara kerja dan penerapan keseharian. Di awal kedatangan, aku pun melaksanakan ibadah secara sembunyi-sembunyi, karena belum berani terang-terangan meminta izin kepada majikan. Menunggu waktu tepat, untuk mengutarakan.

Hal terberat kedua adalah menahan rindu pada Dimas, buah hati yang kumiliki. Tujuh tahun lalu, menjelang perayaan ulang tahunnya yang kedua, putra semata wayang aku tinggalkan. Masih terngiang jelas, bagaimana dia menangis, saat ibu menggendongnya ke belakang, agar tak melihat kepergianku yang akan meninggalkannya pergi merantau.

“Maafkan mama, Nak. Mama bukanlah orang tua baik, yang bisa menemanimu bermain dan membacakan dongeng menjelang kau tertidur. Namun, mama akan menjadi lebih jahat, jika membiarkanmu tak memiliki masa depan, dan putus sekolah karena tak ada biaya.”

***

Aku berharap dapat mendengar suaranya memanggilku mama, meskipun kami berjauhan. Agar suara renyah itu, dapat mengobati bongkahan rindu yang kian hari kian menggunung. Membuat dadaku sesak, menahan tangis yang terisak, selalu tersimpan di palung hati yang terdalam. Sayangnya, acapkali kutelepon Dimas selalu diam. Dahulu, aku hanya memiliki ponsel kuno tanpa kamera dan akses internet yang dapat berselancar di dunia maya. Tidak seperti sekarang, sekatan jarak dan waktu, tak mengurangi kedekatan, berkat kemajuan teknologi. Mendengar suara ibu dan bapak merupakan kekuatan tersendiri bagiku dalam berjuang di negeri orang.

Advertisements