Cerpen Gunawan Maryanto (Koran Tempo, 02-03 Maret 2019)

Titik Nol ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempow
Titik Nol ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo 

Hari masih begitu muda. Kau belumlah ada. Maka kuceritakan kisah ini. Semoga kau suka. Sebab semuanya bermula di sini. Pada gulungan kabut tebal di utara dan hamparan api berkobar di selatan.

Niflheim: dingin seperti cinta mati

Muspell: membara seperti cinta pertama

Niflheim tak menjanjikan apa-apa selain dingin dan kebekuan yang abadi. Di balik selimut tebal kabutnya mengalir sebelas sungai berbisa yang mampu membunuh sesiapa saja yang meminumnya. Semua bersumber di Hvergelmir-pusat segala, gejolak yang tak pernah reda, dendam yang tak pernah tuntas, nafsu buas yang tak bisa lagi kau bungkus dengan apa pun. Sedang Muspell adalah api abadi, neraka bagi siapa saja yang berani menginjakkan kakinya. Semuanya membara di sana: tanah, batu-batu, debu, juga udara. Dan di tepian kobaran api, titik di mana kabut menjelma jadi cahaya, Surtr tegak berdiri. Pedangnya tertancap di tanah dan menyala-nyala. Sosok ini sudah berdiri di sana entah sejak kapan. Surtr ada sebelum segalanya ada. Katakanlah demikian. Percayalah demikian. Berdiam di sana. Seperti berjaga. Tak pergi ke mana-mana. (Kelak ia akan pergi sekali saja. Pada waktunya nanti. Dan ia tak bakal kembali. Tak ada yang bisa kembali lagi setelah kepergiannya. Juga kita. Saat ini aku yakin ia masih di sana. Di tempatnya semula. Di bawah debunya semula. Jangan pergi dulu, Surtr. Berdiamlah di sana. Setidaknya sampai cerita ini selesai.)

Di antara Niflheim dan Muspell, di antara yang dingin dan panas, ada celah di mana kelak kita bertemu-memang, selalu ada celah meski kecil dan tak mudah. Sebutlah ia Ginnungagap, sebuah ruang antara. Sungai-sungai dari utara, di sinilah mereka bermuara, mengeras menjadi dataran es, membeku menjadi bongkahan-bongkahan yang dingin dan sepi. Di ruang antara inilah segala sesuatu mulai tumbuh. Pertama, terciptalahYmir dari sepi yang paling getir, dari angin yang paling dingin. Ia raksasa tanpa kelamin. Kita tak bisa menyebut jantan atau betina. Tubuhnya besar. Lebih besar dari apa yang bisa kaubayangkan atas kebesaran. Tak berselang lama, terciptalah Audhumla, seekor sapi yang juga besarnya bukan kepalang. Sapi raksasa yang lahir tanpa tanduk. Kerjanya hanya menjilati balok-balok es-yang menurutnya asin. Tak ada yang lain. Rumput belum ada di hari yang masih muda itu. Maka jadilah bongkah-bongkah es sebagai makanan dan minumannya. Sedangkan Ymir bertahan hidup dengan air susu yang dihasilkan Audhumla. Susunya segar. Berlimpah. Memancar dari puting-putingnya. Mencipta sungai-sungai baru. Sungai susu.

Advertisements