Cerpen Pangerang P. Muda (Radar Selatan, 25 Februari 2019)

Taman Cinta Pak Tua ilustrasi James Christensen - Radar Selatanw.jpg
Taman Cinta Pak Tua ilustrasi James Christensen/Radar Selatan

Uar-uar kabar dari seseorang yang merasa melihat Pak Tua datang dari utara, sontak membuat hening pagi berubah hiruk. Rasa penasaran menyisihkan rasa sangsi bahwa Pak Tua telah lama tiada, membuat orang-orang datang berkerumun. Kematian Pak Tua memang tidak ada yang menyaksikan, tapi bisakah dikira-kira ia masih hidup bila telah berpuluh tahun tak pernah lagi terlihat? Apalagi usianya yang tentu kian sepuh.

Ingatan orang pada Pak Tua yang sudah lucut, kembali terbit. Ia yang telah dikira mati tiba-tiba muncul kembali, betapa mencengangkan! Apalagi dikatakan muncul dari arah utara. Itu wilayah tak berpenghuni kota mereka, bahkan penduduk kota meyakini di sebelah sanalah bagian paling tepi dari bumi yang mereka huni. Tatap mata ke sana hanya mampu melihat tebaran bongkahan batu sebesar gajah, lebih kerap terlihat samar dalam dekap kabut sehingga menyerupai monster sedang terlelap. Mereka yakin, dalam jarak entah berapa ribu depa ke sana tepi bumi berada.

“Pak Tua membawa sekantung … entah apa,” lanjut si penguar kabar megap-megap, membuat pengerumun kian penasaran.

“Sekantung apa?” sergah pengerumun, dan cepat melanjutkan, “Lebih baik kita mencarinya. Pak Tua mungkin kembali ke bekas kiosnya.”

Mereka segera mengurai diri, berlekas mencari Pak Tua. Semua menuju ke bekas kios Pak Tua dan mendapati di sana sedang duduk bersandar. Di pangkuan Pak Tua terlihat ada kantung kain menggelembung penuh.

Orang-orang mendekat, dan rupanya mereka lebih tertarik bertanya, “Apa itu, Pak Tua?” alih-alih menanyakan ke mana saja Pak Tua selama ini.

Pak Tua merogoh isi kantung kain di pangkuannya, meraup segenggam biji-bijian dari dalam kantung, lalu menengadahkan telapak tangan dengan setumpuk biji-bijian tertadah di atasnya. Ia menjelaskan, “Inilah benih terbaik yang pernah ada.”

Beberapa kepala saling-desak melongok isi telapak tangan Pak Tua. Raut muka mereka bergurat bingung.

“Cinta tak lagi dimuliakan di tempat ini,” ujar Pak Tua. “Masa-masa suram sedang mengungkung kita, Nak, dan saatnya kita mencoba menyemai biji-biji ini….”

***

Advertisements