Cerpen Ikhsan Hasbi (Serambi Indonesia, 24 Februari 2019)

Sesuatu yang Bernama, Hidup, Tak Terhingga ilustrasi Tauris Mustafa - Serambi Indonesiaw.jpg
Sesuatu yang Bernama, Hidup, Tak Terhingga ilustrasi Tauris Mustafa/Serambi Indonesia

BEGITULAH. Begitulah aku ada. Sejak manusia diciptakan, sejak itulah aku ada. Mendiami sebatok kepala yang menyiangi sehari-semalam dengan kegundahan, keceriaan, kesenangan dan segala macam fantasi kehidupan menuju kematian. Bagaimana perwujudan mencirikan setiap hal adalah sesuatu yang tidak perlu lagi kau pertanyakan. Bayangkan, perubahan yang terjadi sekarang, penemuan demi penemuan, galian demi galian, kecerdasan demi kecerdasan, kecanggihan demi kecanggihan, adalah jasaku yang sering diingkari. Aku merasa seperti parasit yang melekat pada indung bebal. Karena akulah mereka sejatinya hidup. Tanpa aku, mereka tak lebih dari makhluk yang hanya memiliki naluri, beranak seperti binatang, lalu mati diterkam atau membusuk tanpa menyadari sebabnya apa.

Semacam pesona. Aku adalah jendela tempat mata menemukan arti dari setiap penglihatan. Aku adalah hingar-bingar tempat telinga menemukan suara dan bebunyian. Aku adalah bau yang memisahkan antara yang baik atau tidak bagi kesehatan. Aku adalah perasa yang menyampaikan sejarah pahit, sial, jumud, indah, pantas dikenang dan pengendalian terhadap fenomena atas nama imajinasi.

Misalkan saja, aku berdiam di kepala seorang pelamun yang duduk dalam barisan saf di hari Jumat yang mendung. Langit menarik tirai lekat-lekat menyamarkan cahaya matahari. Kekelaman berbalaskan hujan seperti batu lunak yang terjatuh di atas seng, bertubi-tubi—jika benar, batu lunak itu jatuh seperti hujan. Orang-orang di sekitarku kebanyakan tertekur. Kepala teleng mengangguk-ngangguk. Nyaris mencium sajadah panjang seperti patung yang memiliki beban kepala berat jatuh dalam posisi lotus. Sebagian di antaranya bukan untuk dibuat-dibuat sebagai keisengan, melainkan kantuk yang kurang ajar kerap menggerayangi kapasitas otak yang lelah. Sebagian lagi, mengkhususkan diri melafalkan kalimah thayyibah dengan lebih seksama menggerakkan kepalanya. Anak-anak berbisik, sekali-kali tertawa. Lalu pelototan mata milik orang dewasa di sisinya mendiamkan kesenangan mereka. Duduk tegap. Menghadap ke depan. Memikirkan cara untuk melampaui senyap, menjadi bocah yang baik. Tapi kenyataannya, ide untuk menjadi nakal adalah hal yang paling murni mereka capai.

Advertisements