Cerpen Umi Salamah (Lampung Post, 24 Februari 2019)

Senja Itu Membunuh Kalian ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Postw.jpg
Senja Itu Membunuh Kalian ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post 

KAU pernah bilang, apa pun di dunia ini tidak mampu untuk membunuhmu. Bahkan, kematian itu sendiri tidak sanggup membunuhmu sebab apa? Karena kesepian menjadi pelindungmu. Tuhan tidak sanggup menurunkan kematian untuk lelaki kesepian sepertimu. Itulah sebabnya, kau tetap hidup dengan napas bara kesepian. Dingin dan kegelapan.

“Tuhan itu aneh. Dia mencabut nyawa orang baik secepat kereta api listrik. Dia malah membiarkan nyawa orang biasa-biasa saja untuk hidup lama. Tidakkah itu menjengkelkan?” gerutumu.

Ya, begitulah dirimu. Kau ini lelaki yang kesepian. Segala kesepian melekat padamu. Dari pagi hingga ke pagi lagi. Rutinitasmu mudah dihafalkan. Jika kau tidak bekerja, kau pasti tidur. Jika kau tidak tidur, kau pasti bekerja. Hanya itu. Pekerjaanmu sebagai penjaga jalan lintasan kereta api semakin menguburmu ke dalam dasar kesepian.

Kau sangat bangga ketika mengatakan kematian pun tidak sanggup membunuhmu, tetapi baru saja, kau bilang ada yang mampu membunuhmu. Ini kedengaran lucu. “Senja itu mampu membunuhku.

Warna jingga keemasan yang berkilau itu mampu meledakkanku menjadi abu. Sebelumnya mataku akan lebih dulu buta karena silaunya. Senja yang singkat itu, mampu meremukkanku dalam sekejap. Secepat mata mengedip,” tuturmu.

Lagi-lagi ini kedengaran lucu jika kau yang mengucapkannya. Kau ini lelaki dewasa, tetapi bicaramu begitu melankolis seperti anak remaja tanggung yang baru melepas masa kanak-kanaknya. Kau meledak-ledak seperti baru mengalami masa pubertas.

Bagi lelaki dewasa sepertimu, agaknya senja tidak lagi melambangkan romansa. Senja hanya menyisakan luka menganga yang lebar dan dalam. Menyayat bagian terdalam tubuhmu tanpa belas kasih sekalipun kau meminta ampun. Senja telah meluluhlantakkan harapanmu. Ya, harapanmu akan cinta.

“Ketika dia meninggal, senja telah membunuhku. Aku tidak lagi merasakan apa-apa sejak senja pertama hilang setelah kepergiannya. Sekarang hanya ada tubuh, tanpa jiwa,” ucapmu.

Kau menyedihkan. Tidak hanya jiwamu yang kosong. Perasaanmu juga membeku. Mati dan tidak merasakan apa-apa. Sekarang kau lebih cocok disebut sebagai lelaki dewasa melankolis yang kesepian.

Advertisements