Cerpen Adam Yudhistira (Kompas, 24 Februari 2019)

Cengkung ilustrasi Kun Adnyana - Kompasw.jpg
Cengkung ilustrasi Kun Adnyana/Kompas 

Ketenangan pagi di kampung Lubuk Tampui serentak pecah oleh teriakan keras Mat Boneh. Lelaki bujang tua itu berlari tunggang langgang dari arah sawah Tanjung Raya. Wajahnya pucat pasi seperti baru berjumpa hantu kesiangan.

Seperti orang gila ia menjeritkan warta yang membuat puluhan butir kepala bermunculan dari balik pintu dan jendela.

“Ada orang mati tergantung! Ada orang mati tergantung!”

“Di mana? Di mana?” tanya orang-orang yang bergegas menghampirinya.

“Tergantung di pohon kepayang dekat sawah Mang Saleh!” jawab Mat Boneh terbungkuk-bungkuk dengan napas tersengal-sengal.

Sekejapan, berbondonglah orang-orang menuju tempat yang dimaksud. Setibanya di sana tampak di dahan pohon kepayang tua yang tumbuh di dekat pondok milik Mang Saleh, sedikit terlindung oleh gerumbul daun-daun, sesosok mayat perempuan berayun-ayun memilukan.

Melihat pemandangan itu, bukannya menolong, orang-orang malah menjauh. Tidak ada lagi keriuhan. Kerumunan berangsur menyusut begitu saja. Hanya satu-dua saja yang berusaha menurunkan mayat, sedangkan sisanya pergi tanpa bicara.

***

Satu bulan sebelum peristiwa pahit itu terjadi, serombongan laki-laki bertandang ke rumah Pacik Awang. Rombongan itu adalah utusan Pacik Hambali yang bermaksud mengajukan pinangan untuk Kemala—dara jelita, putri satu-satunya Pacik Awang untuk Anwar, putranya semata wayang.

Dari hulu sampai ke hilir kampung Lubuk Tampui tak ada yang meragukan kecantikan Kemala. Telah banyak pula pemuda yang berniat meminangnya, tetapi mahar yang dicanangkan Pacik Awang membuat mereka harus menimbang niat beribu kali.

Lelaki tua itu tak tanggung-tanggung meletakkan mahar untuk Kemala. Bila tak sanggup menyediakan perhiasan emas ratusan gram serta sutra pengikat berlarat-larat, jangan harap bisa menikahi putrinya. Tetapi syarat itu tidak berlaku bagi Pacik Hambali. Ia adalah saudagar terpandang di kampung Lubuk Tampui. Mahar yang diminta Pacik Awang bukan sesuatu yang sulit baginya.

Advertisements