Cerpen Elisa Tandiono (Koran Tempo, 23-24 Februari 2019)

Viral ilustrasi Koran Tempow.jpg
Viral ilustrasi Koran Tempo 

Jakarta

Gadis itu sungguh ayu. Bisa jadi orang yang menontonnya akan mengira ia artis yang sedang berlatih pantomim. Gerakan teatrikalnya yang seakan-akan sedang memandikan anak kecil tampak begitu luwes namun ekspresinya tidak lazim. Air mukanya sedih dan air mata masih tergenang di pelupuk matanya saat ia menyiramkan bergayung-gayung air imajiner. Namun, ketika ia memulai gerakan menyabuni badan anak yang juga imajiner tersebut, mata gadis itu bertransformasi serupa bintang kejora dan bibirnya merekahkan senyuman yang membuat orang yang melihatnya ikut bersuka. Gadis itu kemudian menyanyikan sebuah lagu anak-anak. Nada yang sederhana tapi menyentuh karena dinyanyikan oleh segenap perasaan.

Rio tercengang melihat video kiriman teman kantor di grup WhatsApp. Bukan karena adegan yang ganjil, tapi yang lebih membuat penasaran adalah adegan tersebut tidak terjadi di depan pancuran, tidak pula di dalam sebuah kamar mandi, melainkan di sebuah jalan raya yang ramai. Dan tentunya karena gadis itu telanjang bulat. Tidak ada sehelai benang pun yang melindungi kulit kuning langsatnya yang mulus. Mata Rio masih tertancap pada ponsel yang lampunya sudah padam sampai ia tersentak karena bahunya ditoel oleh Dani. Teman sekantornya itu tertawa lebar sambil menunjukkan video yang sama. Dani juga anggota grup WhatsApp kantor.

Rasa lucu yang menular segera menggantikan kekagetan Rio. Dengan sigap, tangannya mengimbuhkan teks dengan huruf besar “SIAPA MAU DIMANDIKAN?” pada video tersebut dan mengirimkannya pada beberapa grup WhatsApp. Rio yakin reaksi teman-temannya pasti heboh, terutama Farid yang terkenal ahli membuat meme. Tak lupa Rio juga mengirimkan video tersebut ke Toni, teman SMA-nya yang suka mengunggah video unik ke YouTube.

Medan

Bingung. Hilang. Tersesat. Tidak ada perbendaharaan kata yang mampu mewakili apa yang dialami Santi selama hampir genap satu purnama terakhir. Kadang-kadang ia merasa yang nyata adalah ilusi dan halusinasi, sementara dunia yang ia tinggali, yang ia hirup oksigennya ini, semu belaka. Suara-suara setan hingga malaikat, suara-suara Papa, Mama, dan Devi silih berganti menggedor pancaindra pendengarannya, menyusup hingga ke setiap neuron dan pada akhirnya otaknya berhenti berkonflik dan menyerah.

Advertisements