Cerpen Mufa Rizal (Radar Selatan, 18 Februari 2019)

Keluarga Babi ilustrasi Sarah Addison Allen - Radar Selatanw.jpg
Keluarga Babi ilustrasi Sarah Addison Allen/Radar Selatan

Rumah salah satu tetangga kemalingan. Pintunya masih utuh namun pemilik rumah tidur pulas bagai orang mati. Saat bangun mendapati uang juga perhiasaan miliknya lenyap, ia mengamuk sambil memaki. Gerutuannya tak berhenti meski sudah menemui Pak RT maupun polisi. Ia heran komplek perumahan bisa kemalingan. Rumor yang berembus ada warga melakukan pesugihan: memelihara tuyul atau menjelma sebagai babi kemudian menyatroni rumah konglomerat kikir.

Perumahan jadi lebih ramai juga mencekam sejak peristiwa itu. Sesama penghuni saling menaruh curiga apalagi ketika ada yang menampakan gelagat mencurigakan. Contohnya Sarmin, ia baru saja membeli mobil padahal hanya seorang kepala sekolah. Pria paruh baya itu sempat dicurigai, sampai murid-muridnya mendemo dan enggan masuk kelas menuntut Sarmin lengser. Ia ketahuan menerima sogokan dari wali murid dan me-markup dana renovasi bangunan lama sekolah. Anakku, Sarah bercerita hal itu sesampainya di rumah.

“Lalu, Pak Sarmin dipenjara?”

“Mungkin atau palingan dimutasi ke daerah terpencil.” Katanya sambil menaikkan bahu.

Ibu-ibu bergunjing soal janda pengangguran dengan bergelimang uang. Mereka mengira ia simpanan pejabat atau menipu lelaki berduit. Istriku tak ikut kawanan tersebut. Ia masih punya pekerjaan yang lebih penting dan tak suka mengumbar aib orang lain. Sampai pada giliran keluarga kami jadi bahan gosip murahan. Hal itu semakin jelas ketika Pak RT mengundang datang ke kelurahan untuk rapat. Di sana sudah banyak bapak-bapak merokok juga menikmati kopi hitam.

“Saya mendapat laporan dari warga bapak baru saja beli televisi dan motor?”

“Benar, Pak. Ada sedikit rejeki lebih.”

“Tapi, bapak tidak pernah terlihat pergi ke kantor atau pabrik?”

“Saya kerja di rumah, biasanya malam hari keika tetangga sedang tidur.”

“Oh.” Suara serempak, tanpa dikomando. Seolah menemukan jawaban atas tanya di kepala.

“Kenapa, Pak?”

“Jadi isu itu benar. Bapak melakukan pesugihan?” Desak Pak RT.

Advertisements