Cerpen Sungging Raga (Jawa Pos, 17 Februari 2019)

Sebuah Cerita yang Serius, Mengerikan, dan Tidak Main-Main ilustrasi Budiono - Jawa Posw.jpg
Sebuah Cerita yang Serius, Mengerikan, dan Tidak Main-Main ilustrasi Budiono/Jawa Pos

KARENA ini adalah sebuah cerita yang serius, mengerikan, dan tidak main-main, diperlukan semacam adegan pembuka yang dahsyat. Seperti ini misalnya:

Lelaki itu duduk di sebuah kursi kayu, tangannya terbelenggu ke belakang, begitupun kakinya yang telanjang tanpa alas, terikat dengan kaki kursi bagian depan. Badannya tampak ringkih dengan pakaian kecokelatan yang robek di sanasini. Wajahnya yang menampakkan raut kepedihan itu dipenuhi lebam dan luka. Mulutnya terus-menerus meneteskan darah. Maklum, gigi-giginya telah rontok dan berserakan di lantai. Sementara di hadapannya dua orang berbadan besar sedang menyiapkan beberapa peralatan listrik. Suasana di ruangan itu cukup remang, lampu pijar hanya ada satu, dan itu pun hidup-mati. Udara begitu pengap seperti aroma cucian yang lama direndam dan diangkat sebelum benar-benar kering. Sementara di luar, hujan terus mengirim suara empasan air, percik-perciknya menembus jendela yang dibiarkan terbuka.

Jglerrr….

Sesekali petir datang mengirim cahaya, seperti bentuk lain dari pesan keputusasaan.

Ah, tunggu dulu. Agar lebih meyakinkan, ada baiknya cerita ini diberi tanggal tertentu sehingga seolah-olah ini adalah sebuah cerita yang bersifat kronologi dan bersejarah, seolah ini adalah fragmen kejadian yang lama disembunyikan oleh penguasa. Maka, kita ambil satu tanggal dari tanggal-tanggal yang telah berlalu sebagaimana ahli sejarah yang begitu peduli dengan masa lalu.

25 April 1987

Tidak, tidak, itu tanggal kelahiran penulis cerita ini, kita maju ke beberapa tahun setelahnya.

23 April 1994

Nah. 23 April 1994. Di atas mobil, lelaki itu masih tampak gagah, berorasi untuk membakar semangat kawan-kawannya.

“Buruh harus sejahtera! Buruh bukan budak!”

Advertisements