Cerpen Ida Fitri (Serambi Indonesia, 17 Februari 2019)

Ratu Laron ilustrasi Tauris Mustafa - Serambi Indonesiaw.jpg
Ratu Laron ilustrasi Tauris Mustafa/Serambi Indonesia

MEMERIKSA bahan presentasi, memastikan semuanya sudah ada dalam laptop yang diletakkan di atas meja pembicara di aula The Pade Hotel, aku optimis semua akan lancar. Pade bijeh (padi-padi kecil) ditanam dalam keramik putih, keramik yang seyogianya menjadi tempat air kobokan dan ditata di atas meja-meja bundar di mana peserta workshop duduk: sebotol air mineral, beberapa lembar kertas berlabel hotel dan sebuah pinsil juga diletakkan untuk masing-masing peserta. Selembar spanduk bertuliskan Workshop Tanaman Obat Tradisional terbentang di belakangku, ruang aula masih kosong melompong, hanya dua perempuan berhijab terlihat duduk di meja panitia di sudut belakang ruangan. Gawaiku berdering, nama Aisya Salbi muncul di layar, tanpa menunggu lama aku langsung mengangkatnya.

“Hallo, Sayang. Ada apa?”

“Sayang! Ada banyak laron masuk ke dalam rumah, sangat banyak, Sayang.”

“Tutup pintu rumah, matikan lampu.” Tiga orang peserta workshop terlihat memasuki ruang aula.

“Mungkin ada ribuan. Aku takut, Sayang.”

“Laron masuk ke dalam rumah itu biasa. Usir dengan sapu atau semprot dengan obat nyamuk. Aku harus segera memberikan presentasi.” Aku memutuskan hubungan telepon. Aisya Salbi, kekasihku yang cantik memang terkadang menjadi sedikit lebai kalau sedang ingin mendapat perhatian. Aku mengenalnya dalam sebuah acara diskusi yang diadakan kementerian kesehatan, Aisya Salbi dengan mata bundarnya dan bicaranya yang fasih telah menarik perhatianku. Beruntung aku berhasil mengajaknya untuk makan malam, dan kemudian hubungan kami menjadi lebih intim seperti layaknya sepasang kekasih, meski tidak ada kata jadian di antara kami, tapi aku sudah menganggap perempuan itu sebagai kekasihku. Aisya Salbi bertugas di Kota Raja, sementara aku bertugas di provinsi, kami sama-sama tinggal di Kota Raja dan menjadi sering bertemu, bahkan aku sudah mengenalkan perempuan itu pada orang tuaku.

“Seharusnya acara sudah dimulai, kan?” tanyaku pada salah satu perempuan yang duduk di meja panitia. Melihat jam tangannya, mereka mengangguk, salah satu di antaranya bangkit, “Saya akan minta tolong pihak hotel untuk memanggil peserta yang masih berada di kamar mereka.” Jarum jam sudah menunjukkan angka empat lebih sedikit, aku memiliki waktu empat puluh lima menit untuk memberikan materi tentang Tanaman Obat yang Berada di Sekeliling Kita. 

Advertisements