Cerpen D. Hardi (Haluan, 17 Februari 2019)

Pareidolia ilustrasi Istimewaw.jpg
Pareidolia ilustrasi Istimewa

Apa yang terjadi jika seseorang kehilangan cinta sejatinya?

Konon kota ini tercipta ketika Tuhan sedang tersenyum. Kau bisa menerokanya dari lembayung senja yang sempurna di kursi-kursi antik taman kota, atau punggung trotoarnya yang menawan sepi. Gedung-gedung art deco yang tak lekang teringkus zaman, kerling etalase pertokoan, pepohonan rimbun sebagai paruparunya, atau warna-warni kenangan yang berjejer di setiap sudut matanya.

Namun kecantikan tidaklah abadi.

Aku mematung seorang diri di balik jendela sebuah kafe ketika menyadari bahwa semua hal manis yang pernah kulewati perlahan mulai sirna. Entah siapa yang memulai, kota ini sedang resah dilanda isu akan sosok mahluk yang sering mengganggu di malam hari.

Sesungguhnya orang-orang tak begitu yakin perihal wujudnya. Ada yang mengatakan bahwa ia tak lebih dari sebuah bayangan manusia atau ilusi optik semata. Ada yang mengatakan mereka bergerombol. Yang lain lagi bersaksi telah menyaksikan wujud seorang noni Belanda di jalanan tua.

Layaknya adagium, seringkali manusia takut atas hal-hal yang tak mereka pahami dan membenci apa yang tak bisa mereka taklukkan. Yang tak mereka ketahui, aku sebetulnya mengenal siapa mahluk itu dan musababnya harus berakhir seperti ini.

Ia adalah mahluk bergentayangan karena patah hati. Caranya membalas perlakuan yang pernah ia terima adalah mengganggu orang-orang dengan mengisap malam. Ya, mengisap malam. Tepatnya mengisap inspirasi bagi mereka yang sedang mabuk kasmaran.

Bayangkan, malam berlalu tanpa kehadiran gemintang di atap langit yang secara misterius bisa menghilang tanpa jejak. Atau bulat ayu rembulan yang berubah peang, tertutup kabut tebal yang entah sampai kapan tersingkap. Belum lagi rencana kencan malam mingguan bisa kandas begitu saja karena hujan deras mengguyur tiba-tiba. Senja yang selalu jadi primadona para penulis berubah gelap sepekat cerita yang sering diulang-ulang saban ujung September.

Yang paling terganggu tentu saja para seniman dan penyair. Mereka mulai kesulitan mencari inspirasi dari alam. Rembulan sekarat, angin memanas, gerimis jadi air bah. Orang-orang akhirnya mencari hiburan absurd di malam hari yang sudah hampir lenyap; malam yang hening dan sakral jadi ingar-bingar karena telah diisap. Ingar yang membuat onar. Spekulasi teror jadi bola liar. Menebar ketakutan.

Advertisements