Cerpen Teguh Affandi (Tribun Jabar, 17 Februari 2019)

Belum Ada Judul ilustrasi Wahyudi Utomo - Tribun Jabarw.jpg
Belum Ada Judul ilustrasi Wahyudi Utomo/Tribun Jabar 

Dengkur istrinya di ruang sebelah disahut dengkur yang lebih halus dari anak pertamanya. Suasana malam telah menjadi kemul yang menggumuli isi rumah, petak jalanan, dan setiap lorong. Hanya matanya yang belum rela dia katupkan. Dia masih menghadapi layar komputer yang menjadi sumber satu-satunya cahaya terang di ruangan kecil yang sudah lama dia sulap sebagai perpustakaan sekaligus ruang kerjanya, tempat dia menulis dari selepas makan malam, kira-kira jam sembilan hingga maksimal tengah malam. Begitu dia mematok jadwal bekerjanya sebagai penulis.

Namun, berbeda dari biasanya, kali ini semua mandek di ujung-ujung garis akhir. Dia sadar, dia bukan Derek Redmond yang meski gagal di menjelang garis finis, bantuan datang dari luar pagar pengaman. Dia penulis paruh waktu yang bekerja sendiri, tidak ada pertolongan kecuali dari Tuhan atau Setan. Berjam-jam dia telah menulis cerita, kemudian berhenti ketika dia kesulitan menemukan sepotong judul paling tepat untuk seluruh tubuh ceritanya.

Tidak seperti biasa. Ketika memasuki jam kerja sebagai penulis, dia akan membawa notes kecil warna cokelat tua. Dari sana biasanya dia menggunakan daftar kata-kata paling indah yang ditemukan di sembarang waktu-tempat untuk dijadikan judul. Ini trik yang dia dapatkan ketika menghadiri diskusi buku bersama Kurnia Effendi, yang dari kisahnya kerap mencatat semua kata-kata indah untuk dijadikan awalan menulis.

Berbekal kisah itu, saban hari ke mana pun dia mengantongi notes kecil itu. Bila menemukan kata-kata indah, dia akan mencatatkannya. Nantinya saat di rumah, dari salah satu kata yang ada dari dalam notes dia akan kembangkan menjadi sebuah cerita. Dari judul terpilih, dia bisa meneteskan kalimat-kalimat hingga terbangun cerita padu.

Kali ini dia berkebalikan. Selepas makan malam, yang entah mengapa kali ini istrinya menghidangkan bihun dengan kuah pedas yang dilengkapi dengan bokcai dan beberapa iris dada ayam dengan bumbu ekstra pedas. Dia dapat melihat irisan cabai rawit dan bumbu tabur boncabe level 30. Tidak biasa memang. Tetapi kelezatan ayam dan bihun kuah pedas membuat dua mangkuk tandas sekali menunduk. Istrinya berkomentar kalau makanan pedas selain menghilangkan stres juga meningkatkan mood menulis.