Cerpen Jeli Manalu (Suara NTB, 16 Februari 2019)

Anak Penyu, Tuhan dan Lelaki Itu Tak Kunjung Datang ilustrasi Suara NTBw.jpg
Anak Penyu, Tuhan dan Lelaki Itu Tak Kunjung Datang ilustrasi Suara NTB 

Saya saat ini ada di punggung burung rajawali. Paruhnya tiba-tiba menjepit kulit lengan saya. Saya lalu dilemparkan ke bagian tubuh belakangnya kemudian membawa saya ke tempat yang semakin lama semakin tinggi: kami menembus awan dan berulangkali mengitari cakrawala. Paling saya ingat sebelum itu saya tertidur pulas. Dalam tidur saya dikagetkan sesosok raksasa. Dengan kecepatan tinggi ia berlari ke arah saya, memeluk saya yang tadinya baik-baik saja, senja itu, saya menunggu gerombolan penyu muncul di bibir pantai. Saya ingin menangkap berukuran paling kecil, mencium kaki-kakinya dengan hidung sambil sesekali mengajak bicara, dan tak lama sesudahnya saya melepas mereka sampai yang terlihat berupa buih-buih di permukaan air.

Ketika sesosok raksasa saya rasakan merangkul badan saya amat kasar, suasana bagai hamparan kosong seperti ketika mata ditutupi kain hitam demi sensasi kejut pada perayaan ulangtahun. Sesudahnya bola-bola lampu pecah. Tiang-tiang listrik roboh. Telinga serta kedua lubang hidung saya perlahan dimasuki air, lalu dingin menusuk sum-sum tulang.

Saya lari. Saya berusaha lari meski badan rasanya berat sekali. Kepala berdenyut-denyut lebih nyeri dibanding sakit karena malaria, atau sewaktu saya dirujuk ke rumah sakit akibat demam berdarah. Sendu. Sunyi. Sesudahnya gelap gulita menutupi samudra raya. Dalam kekalutan besar itu dalam hati saya bertanya: di atas sana, adakah roh Tuhan melayang-layang supaya ditangkap-Nya badan dingin saya? Barangkali Tuhan yang beberapa tahun lalu dikenalkan seseorang pada saya punya handuk dan baju panas. Kaus kaki tebal serta topi bulu-bulu. Barangkali juga Ia punya tungku agar saya menghangatkan jari-jari. Mungkin di sekitar perapian Tuhan punya segelas teh manis panas atau segelas kopi tanpa gula pun tak apa, atau setetes anggur sisa-sisa perjamuan dalam cawan yang mungkin lupa dikeringkan agar kerongkongan saya hangat lalu bisa berteriak: tolong! Tolong! Tolonglah saya.

***

Saya namanya Rara. Nama pemberian seorang Tuan Pastor asal Sumatera. Saya menyebut ia tuan karena belum menikah meski beberapa rambutnya telah putih serta sudah pakai kacamata. Rara, artinya merah. Merah pemberani, katanya, menatap mata saya seakan ia mengirim kekuatan yang tidak mungkin sirna. Waktu itu umur saya sebelas menuju dua belas tahun. Sebelum berkenalan dengan Tuan Pastor di tempat sebelumnya saya dipanggil ‘hei.’ Bahkan sering dipanggil ‘idiot’ saja ketika suasana hati orang-orang sedang buruk terhadap keadaan terlebih akan saya.

Advertisements