Cerpen Gafur Abdullah (Kabar Madura, 15 Februari 2019)

Tana Sangkolan ilustrasi Kabar Maduraw.jpg
Tana Sangkolan ilustrasi Kabar Madura

SEPETAK tana sangkolan milik Sadu siap digarap. Tanah itu merupakan satu-satunya sangkolan dari mendiang eppa’ embu’na yang meninggal dalam peristiwa beberapa tahun silam. Matanya menyimpan kesaksian itu. Butuh waktu panjang untuk melupakan kejadian itu. Bahkan, seumur hidupnya ia tidak bisa dan tidak ingin melupakannya.

Sesekali, Sadu berusaha untuk menghapus catatan tentang tubuh mereka yang dilahap apoi ketika rumahnya dibakar orang tak dikenal. Tapi, setiap nongkrong di warung  kopi milik Suna, pikirannya kembali ke kejadian itu. Bukan karena ia melihat foto atau berita tentang dukanya di koran maupun televisi. Bukan pula warga yang nongkrong bercerita. Melainkan kursi yang ada di pojok warung itu menyimpan kisah eppa’na. Maklum, kursi yang ada di pojok itu menjadi tempat mendiang eppa’na duduk saat nongkrong di warung itu. Setiap matanya mengarahkan ke kursi itu, air matanya perlahan menetes. Sedang tempat cuci prabot milik Suna juga mengingatkan ia kepada mendiang embu’na. Memang semasih hidup, embu’na bekerja kepada Suna sebagai pencuci prabotan warung suna dengan satu kilo beras sebagai upah.

Sebagai anak tertua, Sadu harus bertanggungjawab akan keberlangsungan hidup adik-adiknya. Ia tiga bersaudara. Sementara, Musa, saudara laki-laki yang minggat dari rumahnya karena tidak dibelikan motor oleh orangtuanya tidak ada kabar. Tapi ia tetap mencari kabar tentang Musa. Sedang adik bungsunya terpaksa harus putus sekolah karena tidak sanggup membayar biaya pendidikan yang bertambah tahun semakin mahal. Entah apa maunya pemerintah sekarang. Biaya pendidikan semakin mahal. Padahal, pendidikan negeri ini tetap saja jauh dari kata maju.

***

Sekalipun kondisinya melarat, Sadu memilih tinggal di desa Ragang dan menggarap tana sangkolan itu dari pada merantau ke negeri Jiran seperti sebagian warga sekitar. Kadang ia tergiur berangkat ke Malaysia ketika diajak Muni, tekong yang masih tetangga sebelah. Namun ia urungkan niat untuk ke luar negeri karena biayanya yang cukup mahal. Jangankan untuk bekal ke Malaysia, makan sehari-hari saja susahnya minta ampun.

Advertisements