Cerpen Adam Yudhistira (Radar Selatan, 11 Februari 2019)

Gadis Pemurung di Bangku Taman ilustrasi Christina Romeo - Radar Selatanw.jpg
Gadis Pemurung di Bangku Taman ilustrasi Christina Romeo/Radar Selatan

Pagi ini, kau terjaga dengan kepala berat dan tulang seakan lungkah. Jarum jam menunjuk angka sepuluh—angka yang terlalu tinggi untuk bisa disebut pagi. Dalam posisi berbaring, kau memikirkan kekasihmu. Semestinya lelaki itu sudah datang, tapi kenyataannya, lagi-lagi ia tak datang. Kau lantas memaksakan diri untuk turun dari ranjang, mencuci muka, lalu bergegas menuju taman di seberang apartemenmu. Seperti biasa, kau menunggunya di sana.

Bangku itu berderit saat beban tubuhmu tumpah di atasnya. Di pikiranmu, waktu berjalan seperti wanita tua. Kau dihinggapi rasa bosan yang akut dan lantas berpikir, berapa lama waktu untuk menunggu? Satu menit? Satu jam? Seharian? Sepanjang usia? Kau menggumam. Jengkel. Tidak terasa, sebelas bulan sudah berlalu.

Kau mengitari taman itu dengan pandangan. Di sana hanya ada laki-laki setengah baya yang sangat kau hafal aktifitasnya. Kadang ia menyapu guguran daunmahoni, mengumpulkandaunangsana, memangkas pelepah palem putri, atau berbincang dengan beberapa pengunjung.

Kemudian pandanganmu beralih ke bangku-bangku. Kau lantas berpikir, sudah berapa lama bangku-bangku itu kosong? Sudah berapa lama bangku di sebelahmu kosong? Sudah berapa lama hatimu kosong? Bukankah seharusnya ia ada di sana? Duduk di sampingmu? Di dalam hatimu? Angin bertiup pelan. Daun-daun berguguran. Rasa sedih menyilet bagian dalam tubuhmu.

Kau mendengus kesal. Untuk meredamnya, kau lantas membangun adegan imajiner. Sebenarnya kau benci tindakan itu, namun kau tetap melakukannya. Perlahan-lahan suara biola memenuhi telingamu. Lantunan iramanya mendorongmu berdiri, memejamkan mata, lalu menari dengan penuh perasaan.

***

“Setiap datang, ia selalu duduk di sana.” Penjaga taman menunjuk ke satu bangku. “Aku tak berani menegurnya, sebab ia selalu murung.”

“Seharusnya Anda menghampirinya,” celetuk seorang perempuan berdahi lebar. Seekor anjing pudel putih menjilati sepatunya. “Setidaknya Anda tahu apa masalah yang sedang dihadapinya hingga mengambil keputusan seburuk itu.”

Advertisements