Cerpen Muhammad Amir Jaya (Fajar, 10 Februari 2019)

Ular yang Berkepala Tiga ilustrasi Fajarw
Ular yang Berkepala Tiga ilustrasi Fajar 

Malam ini aku di sini, di sebuah tempat yang paling bersejarah di pusat kota. Tempat—di mana para lelaki-lelaki yang datang dari berbagai pelosok kampung dan kota menghabiskan waktu dan isi dompetnya untuk sebuah kesenangan dan kenikmatan. Lelaki-lelaki yang tidak puas dengan sawahnya di rumah, lalu mencari sawah-sawah lain untuk menanam benih-benihnya yang mungkin sudah karatan dan berdaki.

Tempat ini (aku menyebutnya Jln. Nusantara) adalah tempat yang tidak lagi asing bagi pelancong-pelancong yang datang dari pelosok nusantara. Sebab tempat ini adalah tempat yang paling menggiurkan dan memabukkan sejak orang-orang Belanda menjejakkan kuku-kukunya di negeri ini. Setelah kalah dari Sekutu, lalu datang orang-orang Jepang menggantikan posisinya untuk menjadi penguasa di tanah Bugis—Makassar yang belum sepenuhnya paham tentang hakikat persatuan dan kemerdekaan.

Tempat ini (aku juga menyebutnya Pasar Daging) tetap berdiri kokoh hingga detik ini. Sudah berpuluh-puluh pergantian gubernur Sulawesi Selatan dan wali kota Makassar, belum sekalipun ada niat yang sungguh-sungguh untuk mengubah Pasar Daging ini menjadi sebuah tempat yang berkeadaban dan berperadaban. Kalau ada wali kota yang memiliki ikhtiar dan niat untuk menjadikan tempat ini sebagai pusat kuliner, itu masih sebatas niat, dan karena itu tak pernah menjadi kenyataan, karena keberanian bertindak hanya sebatas retorika. Pasar Daging ini memang menjadi salah satu pemasok Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang cukup besar.

Malam ini aku masih di sini, di sebuah ruang yang berjejer perempuan-perempuan cantik, wangi dan tentu saja seksi, dan di bagian punggungnya tertera angka-angka atau nomor-nomor panggilan. Di antara keremangan lampu warna-warni yang dipadu suara musik yang beraroma Barat, aku menatap satu persatu perempuan-perempuan yang ada di hadapanku. Sekitar 40-an perempuan cantik itu seperti bidadari yang datang dari sorga untuk meladeni hasrat para lelaki-lelaki yang membutuhkannya. Tapi aku datang di sini berbeda dengan lelaki-lelaki lainnya. Aku datang di sini untuk sebuah latihan mengenal diri. Apakah aku sanggup lolos dari latihan olah batin dan olah tubuh atau latihan mengenal diri ini?

Advertisements