Cerpen Teguh Affandi (Lampung Post, 10 Februari 2019)

Tuhan Bermalam di Rumah Melly ilustrasi Sugeng Riyadi - Lampung Postw.jpg
Tuhan Bermalam di Rumah Melly ilustrasi Sugeng Riyadi/Lampung Post 

TATKALA suara ketukan pintu mengibaskan dingin di sekitar telinga, hujan sedang bertambah lebat. PLN baru saja melakukan pemadaman bergilir dan Nosa menggigil karena demam berdarah. Melly tahu yang mengetuk pintu itu tiada lain, kecuali Tuhan. Pertolongan Tuhan hanya datang di akhir, demikian Melly meyakini. Melly bergeming di tubir paling pinggir. Bilamana tangan Tuhan terulur? Orang-orang membekap mulut, bersedekap sambil mengamati dari jauh, memandang jijik, dan menganggap Melly tak lagi manusia seperti mereka.

Pertolongan Tuhan kali ini pasti datang, bisik Melly kepada Nosa. Tuhan tak mungkin abai.

Tuhan berdiri di muka Melly. Kehadiran-Nya saja sudah membuat Melly jatuh bahagia. Seolah semua beban hidup, segala kesulitan, dan penyakit Nosa yang hampir membuatnya yakin kematian akan memisahkannya dengan Nosa, tak berkutik menyiksa Melly lagi.

Tuhan yang tahu semua yang dirasakan Melly, menyingkirkan Melly dari hadapan-Nya. Masuk menuju dipan di kamar satu-satunya. Di sana Nosa menjelma kepompong. Digulung sarung, kain batik peninggalan Ibu Melly, selimut putih, dan dua lembar seprai. Itu satu-satunya cara Melly membantu mengusir demam Nosa yang tak kunjung turun.

Tiga bulan lalu, Melly membawa Nosa ke kampung ini. Satu-satunya yang tersisa di kampung ini ialah rumah Ibu yang sempit, rapuh, doyong, dan tak terurus. Akan tetapi, hanya di pojok sanalah, tempat di muka bumi ini yang Melly harapkan memberinya atap. Sepotong harapan dan sedikit pertolongan.

Kita akan liburan ke rumah nenek, kata Melly menenangkan Nosa. Dalam hati, Melly menampik, rumah nenek Nosa tak sehangat dalam cerita dongeng. Nenek yang meninggal karena usia tua, tak Melly antarkan ke permakaman.

Melly tak ingin melihat wajah ibunya dengan ragam cumbu, keringat, dan pekat sperma laki-laki telah berkerak dan menebal di tubuhnya. Tak ingin ia membiarkan kenangan terakhir di benak ibunya demikian. Biarlah ibunya membawa kenangan bahwa Melly ialah gadisnya yang berusia sembilan belas tahun, turut Sapuan si sopir truk ke Jakarta, merantau sebagai buruh di pabrik garmen.

Advertisements