Cerpen Ali Ibnu Anwar (Radar Banyuwangi, 10 Februari 2019)

Sapi Betina dan Sungai Susu ilustrasi Radar Banyuwangiw.jpg

Sapi Betina dan Sungai Susu ilustrasi Radar Banyuwangi

“KOK masih menangis, Mak! Kan sudah dibelikan sapi,” tanya Yu Leha, heran.

Perempuan tua yang terbaring di kasur itu, malah menangis semakin jadi. Yu Leha sering dibuatnya geregetan. Ada-ada saja permintaan Mak Tum kepada anak nomor dua, yang tinggal serumah dengannya. Kadang-kadang minta dibelikan manggis. Pernah minta dibelikan sawo. Minta ontong pisang rebus. Tumis rebung. Telur ikan tongkol. Mendol. Kacang bawang. Juga sejumlah permintaan yang aneh-aneh lainnya.

Tiga bulan yang lalu, saat bulan purnama menggantung di langit, pada malam ganjil di bulan Suro, Mak Tum menangis tersedu. Sontak saja, Yu Leha terbangun. Ia segera menghampiri ibunya di kamar. Seolah sudah paham, bahwa setiap kali ibunya menangis, pasti ada sesuatu yang diingini.

“Mak, pengen apa? Biar besok aku belikan di pasar,” tanya Yu Leha.

“Aku pengen melihat sapi!” jawab Mak Tum, sambil tersedu.

“Oh… Mak, mau dimasakin daging sapi?”

“Bukan! Aku pengen melihat sapi babon!”

“Apa? Mak ini seperti anak kecil saja,” Yu Leha mulai kehilangan kesabaran.

Esoknya Yu Leha bercerita kepada Paino, suaminya, bahwa ibunya ingin melihat seekor sapi.

“Mungkin Emak ingat sama sapi yang di jual oleh Karsono, Mas!” kata Yu Leha.

“Kejadian itu kan sudah lama sekali, Dik!” Paino seperti menepis.

“Tapi, ya apa kalau Emak beneran menginginkan sapinya lagi?” Yu Leha masih bertahan.

“Coba, kamu telepon Cak Toyo. Barangkali, ia punya solusi!”

Memang Mak Tum sudah tua. Omongannya kadang-kadang ngelantur. Seperti anak kecil yang minta ini itu. Jika perempuan tua itu minta segala macam buah atau sayur yang bisa dibeli di pasar, mungkin Yu Leha masih bisa membelinya. Tapi malam itu, Yu Leha benar-benar kehilangan kesabaran. Mak Tum ingin melihat sapi.

Yu Leha kembali mengingat, bahwa lima tahun yang lalu ibunya memang memiliki dua ekor sapi. Tapi kedua-duanya sudah habis dijual oleh Karsono, adik kandung Yu Leha, yang kini sukses bekerja di Ibu Kota. Jadi mandor proyek, kalau tidak salah. Boleh jadi, Mak Tum mengira sapi itu masih ada. Yu Leha tidak menyalahkannya. Sikap ibunya bisa dimaklumi dengan saksama.

Advertisements