Cerpen Riyan Prasetio (Singgalang, 10 Februari 2019)

Perempuan yang Menggali Kubur untuk Suaminya Sendiri ilustrasi Singgalangw.jpg
Perempuan yang Menggali Kubur untuk Suaminya Sendiri ilustrasi Singgalang 

RUMAH yang biasanya ramai itu mendadak sepi. Para lelaki berbadan kekar yang biasanya hilir mudik, keluar masuk rumah mewah itu tak lagi tampak batang hidungnya. Kesunyian bertambah tatkala suara tangis perempuan itu juga mendadak lenyap.

Napasnya yang sempat memburu perlahan normal. Merasakan angin yang berembus lembut menyentuh permukaan kulitnya yang tipis.

Air matanya tak lagi bersisa. Semalaman tangis itu pecah. Kadang menderas, kadang membeku di pipi.

Menciptakan anak sungai yang kemudian terhapus saat jemarinya membersihkan bekas kristal bening yang berjatuhan, merembes di pipinya itu.

Ruang tengah yang merupakan tempat dibaringkan jasad suaminya itu begitu lengang. Saking lengangnya sampai terdengar desau angin siang itu. Dipeluk tubuh pucat yang berbalut kain putih.

Sebentar-sebentar pandangan perempuan itu menatap ke arah pintu. Kosong. Tak seorang pun datang melayat. Bahkan tetangga samping rumah pun tak menampakkan batang hidungnya untuk sekadar mengucap kalimat bela sungkawa.

Bukannya mereka tidak mendengar perihal kematian suaminya itu. Mereka tahu. Bahkan sejak subuh tadi toa masjid terdengar mengumumkan kematian suaminya karena terkena serangan jantung mendadak. Wajah-wajah lega langsung menghias raut muka mereka yang memendam kebencian. Mereka yang selama ini merasa ditindas, diperlakukan kasar oleh jasad yang kini terbaring kaku itu mendadak bahagia. Mereka sungguh bahagia hingga tak peduli perempuan yang merupakan istrinya itu sedang berduka.

“Pa ….” panggilnya lirih.

Perempuan itu tahu, ia bahkan sungguh tahu jika panggilannya tak akan dijawab oleh suaminya. Lama perempuan itu mengheningkan cipta. Wajahnya menunduk lesu dengan daging-daging yang membalut tulangnya mulai menyusut. Sekali dua air matanya merembes. Meski debitnya tak sebanyak beberapa saat yang lalu.

Advertisements