Cerpen Yuditeha (Solo Pos, 10 Februari 2019)

Nisan Merah ilustrasi Solo Posw.jpg
Nisan Merah ilustrasi Solo Pos 

Karanganyar, Desember 1965

Baru dua bulan aku berada di desa ini. Bapak yang mengajakku pindah ke sini. Bapak mengatakan rumah yang sekarang kami tempati ini, rumah leluhur kami. Tapi entah mengapa selama ini bapak tidak pernah bercerita, terlebih karena setahuku ini bukan rumah kakek atau nenek dari bapak maupun dari ibu. Jadi ketika bapak mengatakan rumah ini rumah leluhur kami, tentu saja aku tidak pernah menduga sebelumnya. Dari keterangan bapak aku jadi punya pemikiran mungkin rumah ini milik kerabat bapak atau ibu yang lain. Dan ketika hal itu kutanyakan, bapak hanya mengiyakan begitu saja. Meski begitu, entah mengapa aku merasa jawaban bapak tidak bisa meyakinkanku. Dan kabar yang cukup membuatku terkejut adalah saat bapak mengatakan meskipun hanya sebentar, tapi katanya dulu bapak sempat tinggal di rumah ini. Kabar itu pun baru sekarang aku ketahui. Meski bapak keturunan Jawa–Sumatra, tetapi sewaktu ibu masih hidup dulu juga tidak pernah bercerita tentang rumah ini, terlebih tentang masa muda bapak yang pernah tinggal di sini. Lalu aku berpikir, adakah sesuatu yang dirahasiakan bapak selama ini?

Di sebuah sore yang cerah, aku sempatkan jalan-jalan mengitari desa, sekadar ingin mengenal daerah ini lebih dekat. Desa ini masih banyak pohon besar yang menjulang tinggi. Udaranya terasa sejuk, sangat jauh jika dibanding dengan tempat tinggal kami yang dulu. Kota Semarang, memang teramat panas. Ruang udara di sana seperti terbungkus plastik tebal. Kapan pun waktunya, yang kurasa hanya gerah. Sedangkan di desa ini, meski matahari siang tadi tetap dengan gagah mengeluarkan sinarnya, tetapi terasa jauh lebih redup dibanding di Semarang. Pada saat aku sampai di daerah makam Ngalian, Lalung Karanganyar, aku melihat ada sekelompok orang tak kukenal berkumpul di makam itu. Mereka melakukan perusakan terhadap beberapa makam. Tentu saja aku terkejut melihat peristiwa itu. Agar tidak terlihat oleh mereka, aku gegas bersembunyi di balik pohon besar yang ada di sekitar makam, sembari mencari kesempatan, dan memilih waktu yang sekiranya tepat untuk pergi dari tempat itu. Ketika akhirnya aku berhasil menjauh, aku masih sempat memerhatikan ke arah makam. Sekilas aku melihat salah satu dari mereka menunjuk-nunjuk salah satu makam. Lantas makam itu kemudian juga ikut dirusak.

Advertisements