Cerpen Ida Fitri (Padang Ekspres, 10 Februari 2019)

Nek Nu ilustrasi Orta - Padang Ekspresw
Nek Nu ilustrasi Orta/Padang Ekspres

PEREMPUAN renta berkulit gelap melangkah ragu memasuki pintu Puskesmas, ia berdiri sebentar di depan meja resepsionis, melihat kiri-kanan, dan kembali berjalan dengan separuh gunung tidak kasat mata di atas kepala. Gedung itu begitu senyap; perawat, dokter dan pasien telah terhisab dinding bercat putih. Kursi-kursi tunggu berjajar di dinding yang diselingi pintu-pintu ruang lain yang lebih munggil. Ia melangkah masuk ke pintu pertama. Sebuah kursi diletakkan di belakang meja, kursi lainnya berada di samping kiri bersudut sembilan puluh derajat dari kursi pertama. Sehelai sampiran kaku membelah dua ruang kosong itu. Matanya menyiratkan kecewa, tatkala ia berjalan keluar dari ruang itu dan hendak beranjak ke ruang lain. Sebuah suara membuatnya berpaling. Suara dari perempuan muda yang baru datang dari dalam dinding sebelah utara.

“Ada yang bisa kami bantu, Nek?” Entah ketulusan atau kepura-puraan, perempuan muda itu tersenyum, dua lesung pipit terlukis di sudut bibir. Perempuan muda yang kemudian mengaku bernama Lantana itu membimbing nenek renta duduk di kursi tunggu.

Tangan Nek Nu gemetar ketika menunjukkan selembar surat keterangan. Lantana mengambil dan membaca surat itu. Ia terpekur sejenak, lalu kembali memandang nenek renta yang meminta dipanggil Nek Nu. Kerut-kerut menggurat jelas di wajah tirus itu.

“Setahun sudah Syamaun meninggal. Ini kali kedua saya mendapat surat seperti ini, permohonan melunasi biaya rumah sakit yang tidak ditanggung pemerintah. Saya tidak tahu harus cari dimana uang satu juta dua ratus lima puluh ribu.” Mata Nek Nu berkaca-kaca, menatap Lantana yang terlihat kebingungan. Dara kuning langsat itu melihat jam yang melingkar di tangan.

“Ini jam istirahat, Nek. Bisakah nenek menunggu sebentar? Saya sendiri tidak mengerti perihal surat ini,” ujar Lantana prihatin.

Nek Nu mengangguk perlahan kemudian melihat ke depan, menembusi dinding puskesmas yang bercat putih. Lantana ternyata berprofesi sebagai perawat magang di puskesmas itu. Tak banyak yang bisa ia bantu, selain duduk menemani Nek Nu yang berkisah tentang Syamaun, anak lelakinya yang mati setahun yang lalu. Tangan perempuan tua itu terlihat gemetar, begitu pun dengan suaranya saat bercerita.

Advertisements