Cerpen Pasini (Media Indonesia, 10 Februari 2019)

Marni dan Marcelia ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesiaw.jpg
Marni dan Marcelia ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia 

MARNI hanya memiliki waktu dari lepas senja sampai pagi tiba. Yang bisa dilakukannya di antara kedua waktu itu salah satunya adalah menidurkan bocah kurus dua tahunan itu setelah lebih dulu puas menyusu padanya. Terkadang ia ciumi selayaknya menangguk rindu tahunan penuh.

Waktu menjemput dari rumah emaknya, si bocah sudah dimandikan dan dibedaki. Sudah menghabiskan tiga botol teh. Sudah pula dikasih makan nasi lauk sayur sup dengan sedikit merica. Kemungkinan tidak terlalu pedas. Emaknya menambahkan, tadi anaknya nangis minta agar-agar dan kue terang bulan. Setelah mengulurkan selembar uang, Marni pun menggendong anaknya dan membawanya pulang. Tadi pagi emaknya memang meminta uang. Kata Marni, “Nanti sore saja kalau sudah punya uang. Kalau Pelangi minta jajan, ngutang dulu. Sore nanti aku ganti.”

Jarak rumah Emak dengan rumah Marni 3 kg saja. Hanya perlu waktu sekitar 10 menit dengan motor matik yang baru dikreditnya tiga bulan. Tentang motor itu suaminya mendesaknya, “Berapa emangnya gajimu di pabrik sepatu?”

“UMR, Mas.”

Lelaki itu sepertinya tidak kehilangan ketajaman. Karena sejatinya ia memang hanya kehilangan kekuatan dua kaki, dan sepertinya kekuatan pada bagian itu berlimpah kepada sepasang mata dan dua lubang hidung.

“Kulitmu kelihatannya lebih licin sekarang.”

“Tidak lagi dipayungi matahari, kan.”

“Juga lebih wangi.”

Marni tak langsung mengatakan apa-apa, seperti baru saja tak mendengar apa-apa.

“Makan saja, minum obatnya, lalu tidur. Jangan banyak pikiran. Banyak berpikir tak membuat ada yang berubah.”

Marni menarik selimut, menutupi sebagian besar bagian tubuhnya. Agar betis telanjangnya yang montok dan kenyal itu tidak diselisik oleh pandangan lebih tajam lagi. Ia memilih posisi membelakangi suami, menghadap sambil memeluk bocahnya yang sama sekali tak terganggu dengan nada bicara dan suasana tak nyaman yang mengepungnya.

Advertisements