Cerpen Rudi Riadi (Pikiran Rakyat, 10 Februari 2019)

Lieur Aing Mah ilustrasi Ismail Kusmayadi - Pikiran Rakyatw.jpg
Lieur Aing Mah ilustrasi Ismail Kusmayadi/Pikiran Rakyat 

KALAU ada sayembara penjajahan di atas dunia ini, mungkin istriku juaranya. Dia seperti kompeni. Meregulasi segalanya tentang rumah tangga kami. Padahal aku adalah kepalanya. Tetapi aku justru hanya sebagai rakyat yang dijajahnya. Apalagi setelah aku dirumahkan oleh perusahaan karena pailit. Dia makin menjadi-jadi, menjarah seluruh kehidupanku.

AKU tidak pernah diberi sedikit pun kesempatan untuk menjadi kepala pengelola rumah tangga dengan baik. Sayang sekali, aku sangat cinta pada dia. Sehingga ketidakberdayaan ini tersembunyi di balik itu semua. Padahal aku sudah berusaha untuk tetap menghidupi mereka, istri dan anak-anak. Berusaha untuk memberinya uang yang cukup. Mengantar uang SPP ke sekolah untuk dua anak kami. Membayar token listrik. Sekali-kali membelikan dia martabak Andir atau sate Kaijan sepulang kerja seharian.

Tetap saja. Dia memperolokku dengan sebutan sarjana tak berguna.

“Orang-orang selalu bangga dengan gelar haji di depan namanya. Karena mereka sadar betapa susah payahnya untuk menjadi itu. Dan kamu, bahkan punya gelar sarjana pun tak pernah kau sandang untuk sebuah pekerjaan murahan seperti ini,” demikian dia suatu saat berkata. Membuat hati seperti digilas truk sampah. Sayang sekali, aku sangat mencintainya.

Benar. Setelah di-PHK, aku berjuang untuk menyambung hidup. Dengan pesangon seadanya, setelah sebagian banyak diberikan kepada si penjajah itu, aku membeli sepeda motor dan mengikuti tren teman-teman senasib: menjadi driver ojek online.

Aib rasanya kalau semua keburukan dia harus kuceritakan. Bagaimana dengan sesuka hati dia menyuruhku untuk mencuci pakaian satu ember besar. Pakaian kami. Aku harus menyeduh kopi sendiri. Mengambil makan sendiri. Tanpa pelayan sebab yang seharusnya pelayan adalah penjajah.

Inilah yang membuat istriku seperti jijik melihatku. Aku diusir dari kamar kami. Dan disuruh membersihkan gudang untuk menjadi kamar.

“Kulitmu makin lecek. Kumel!” omelnya. Ya, memang demikian adanya. Seorang driver ojol harus legam. Karena itu adalah atribut yang sebenarnya. Dan istriku tak terima.

Advertisements