Cerpen D. Inu Rahman Abadi (Jawa Pos, 10 Februari 2019)

Keranda ilustrasi Budiono - Jawa Posw.jpg
Keranda ilustrasi Budiono/Jawa Pos

DALAM situasi dan hiruk-pikuk jelang pemilihan wakil rakyat sekaligus orang nomor satu republik ini, pulang ke kampung halaman malah tak membuatku terlalu minat memikirkan itu. Apalagi, berlomba-loma menunjukkan diri di hadapan salah satu calon dari kampung agar menjadi bagian timnya. Aku lebih memilih di rumah, menyeduh kopi, lantas menyelai rokok. Membaca beberapa buku, mulai dari Gabriel Garcia, Haruki Murakami, Kafka, beberapa penulis dalam negeri, dan terus terngiang seorang kawan sempat resah dalam ceritanya. Yang terakhir ini membuatku benar-benar terusik.

Ketahuilah, di kampungku Kebun Sari ini, beragam kejadian aneh pernah ada dan membekas lama di benak orang-orang. Tapi, yang diceritakan kawanku dan akan kutulis untukmu hanya tiga kisah perihal keranda. Mengenai cerita laut, Grup Petteng, hingga Sunan Kalijaga, biarlah di lain waktu saja.

Aku pun jadi ingat kau pernah juga bercerita mengenai orang-orang di kampungmu yang suka pergi ke makam malam-malam. Mereka biasa menyepi di makam keramat itu, katamu waktu itu. Dan entah di makam-makam lain, mungkin juga ada yang demikian. Datang untuk menyepi, melarikan diri dari kejaran orang-orang. Atau menjadikannya tempat menyembunyikan hewan curian, tempat pacaran, bahkan tempat rahasia seseorang yang benar-benar bingung harus berbuat apa terhadap bayi merah yang sama sekali tidak diharapkan kelahirannya.

Namun, beda kampung kita, beda kampung mana pun. Tapi, sudahlah, baiknya bayangkan saja kau sedang mendengar talu keranda dari sebuah makam di kampungku. Berderak-derak bagai sengaja digoyang, lalu ditabuh begitu saja, cukup lama hingga keheningan menguasai, mengembuskan kengerian sendiri. Tahulah, keranda itu terletak di pelataran makam kampung yang dikeloni semak belukar karena bertahun tak terurus dan sangat jarang dilewati. Bahkan, tidak ada yang berani pergi ke sana. Kendati ada mayit baru segera dikubur, tempatnya sudah bukan di situ lagi, tetapi sebidang tanah yang dijaraki dua petak di samping pemakaman lama itu.

“Kejadian itu berlangsung cukup lama, sampai suatu masa berlalu seiring tak terdengar lagi derak-derak bunyi beraroma ngeri dari keranda itu,” jelas kawanku Jib Najib, memaparkan pitutur kakeknya. “Mulanya, makam itu biasa-biasa saja, lumrahnya yang lain. Tapi, semenjak keranda asing yang tidak diketahui siapa yang membuat dan menaruhnya di sana dan tiba-tiba berjejer dengan keranda lama yang biasa digunakan itu, mendadak suasana ikut berubah. Mencekam.”

Advertisements