Cepen Abraham Zakky Zulhazmi (Kedaulatan Rakyat, 10 Februari 2019)

Ikan ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyatw.jpg
Ikan ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

AYAHKU memelihara ikan sapu-sapu di sebuah akuarium. Tidak terlalu jelas muasal ikan itu. Ayah tak pernah bercerita dari mana asal ikan sapu-sapu miliknya. Setahuku ayah tidak punya hobi memancing. Ia juga bukan seseorang yang gemar memelihara binatang. Satu-satunya binatang peliharaan ayah adalah ikan-sapu. Itupun jika layak disebut peliharaan.

Seingatku, ikan sapu-sapu itu ada di akuarium di pojok ruang keluarga sejak aku kelas satu SMA. Ketika itu rasanya tak seorang pun bertanya perihal ikan sapu-sapu ayah. Ia begitu saja menjadi bagian dari keluarga kami. Bertahun-tahun ia ada di sana. Bahkan sampai sekarang, saat aku memiliki anak usia dua tahun.

Ikan sapu-sapu itu seolah tak bisa mati. Ia ada di sana dan tak akan kemana-mana. Berjalan mondar-mandir menyapu kaca akuarium. Setiap hari sepanjang waktu. Kadang aku berpikir, apa istimewanya ikan sapu-sapu ini? Kenapa ayah tidak memilih ikan hias lain untuk dipelihara?

Pertanyaanku itu terjawab pada suatu pagi. Pagi itu ayah tampak gusar sekali. Ikan sapu-sapunya sudah dua hari tidak bergerak sama sekali. Tapi ayah tahu ikan itu belum mati. Tiba-tiba ayah mengumpulkan kami sekeluarga di ruang tamu dan menyampaikan satu hal penting.

Menurut ayah, ikan sapu-sapu itu telah mengirim pertanda. Sayangnya, pertanda itu adalah pertanda buruk. Ayah bilang, kami sekeluarga harus siap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Kami diminta memperbanyak doa serta menjauhkan diri dari bersenang-senang.

Benar saja, sehari setelah kami berkumpul di ruang tamu, kios ayah di pasar terbakar. Belum pernah aku melihat kebakaran yang lebih hebat dari itu. Seisi pasar seperti larut dalam kobar api. Aku tak terlalu peduli dengan desas desus tentang kebakaran pasar itu. Aku hanya tahu kios ayah ludes. Apalagi isinya sebagian besar adalah plastik dan kertas yang memang mudah terbakar. Tiba-tiba aku ingat ikan sapu-sapu milik ayah.

Setelah peristiwa itu ikan sapu-sapu ayah kembali bergerak seperti biasa. Sejak saat itu aku tidak lagi menganggap ikan sapu-sapu ini ikan biasa. Apalagi ikan itu selalu mengirim isyarat yang tepat ditafsirkan oleh ayahku (hanya ayahku). Misalnya, ketika ikan itu mendadak begitu aktif bergerak. Ayah bilang akan ada tokoh besar yang amat dicintai rakyat meninggal. Sehari kemudian seorang guru bangsa mantan presiden meninggal di rumah sakit.

Advertisements