Cerpen Mustafa Ibrahim Delima (Serambi Indonesia, 10 Februari 2019)

Idang Raja ilustrasi Tauris Mustafa - Serambi Indonesiaw.jpg
Idang Raja ilustrasi Tauris Mustafa/Serambi Indonesia 

CUACA mendung. Awan-awan hitam bergelantungan di angkasa, bersiap-siap menumpahkan hujan. Gerombolan bangau putih terbang serentak pulang ke sarang setelah seharian mematuk-matuk tanah. Sekawanan kambing liar yang sering mengganggu para pedagang sayuran pun berlari berhamburan. Sepertinya mereka sudah tahu apa yang akan terjadi beberapa saat ke depan.

Ternyata salah. hujan tidak jadi jatuh. Angin barat membawa awan  itu ke arah timur dan tumpah di sana. Konon di negeri timur itu, ada seorang pawang hujan sakti. Dia mampu mencuri hujan dari kampung-kampung tetangganya.

Ihwal ganji itu, sering terjadi dalam beberapa pekan ini. “Mendung di kampung kita, hujan di Kampung orang,” kata Dainon kepada Nyak Maneh suatu ketika. Padahal Dainon dan warga Lhok Asan sangat berharap hujan segera jatuh di kampung mereka.

Pasar Kuta Tinggi tampak lebih ramai dari biasanya. Maklum hari ini Selasa – hari pekan. Setiap selasa, warga dari pelosok turun ke pasar membawa hasil bumi, pulangnya mereka membawa pulang kebutuhan sehari-hari. Begitu juga Dainon. Sewaktu pergi dia membawa ubi kayu dan kelapa kupas yang dipungut dari belakang rumahnya. Pulang dari pasar, dia membawa sebambu beras, beras catu, setumpuk ikan keurimen. Lebihnya, ia beli bunga tujuh rupa, jeruk purut dan kemenyan, pesanan istrinya.

Dainon mempecepat langkah menuju keude Bang Taleb, tempat ia parkir sepeda. Bang Taleb seorang pedagang yang baik hati. Ia membebaskan warga Lhok Asan seperti Dainon memarkirkan kenderaan di teras warungnya. Tidak hanya itu, Bang Taleb juga sering mengutangi warga Lhok Asan bila sewaktu-waktu mereka sedang tidak ada uang. Maka tak heran dalam laci meja kasirnya, selain uang juga ada bebepa buah buku notes yang ia gunakan untuk menulis utang. Terutama utang-utang warga Lhok Asan. Selain kopi, di keude Bang Taleb ada juga kue bingkang. Bingkang Bang Taleb sangat terkenal dikenal di kota kecamatan itu. Bahkan anak-anak Lhok Asan selalu menitip kepada orang tuanya yang pergi ke Kuta Tinggi untuk membawa oleh-oleh Bingkang Bang Taleb.

“Bang Taleb, kopi pancung, bingkang satu. Bulan depan saya bayar,” kata Dainon.

Ia mengambil sepeda lalu bergegas pulang. Di sepeda ontelnya tergantung satu kantong kresek yang berisi seikat bunga tujuh rupa, tiga buah jeruk purut dan satu bungkus kemenyan. Dainon terus mendayung sepeda tuanya itu, sepeda yang dibelinya lima tahun lalu dari hasil panen perdananya.

Advertisements