Cerpen Jelsyah Dauleng (Haluan, 10 Februari 2019)

Cerita Lama Negara Suka dan Negara Neka ilustrasi Istimewaw
Cerita Lama Negara Suka dan Negara Neka ilustrasi Istimewa 

Dua pria yang telah bersahabat sejak lama, Pak Suka dan Pak Neka, terlibat dalam perbicaraan serius pada suatu malam. Pak Neka yang punya segalanya dan bahkan bisa membeli setengah isi bumi tak pernah merasa punya masalah berteman dengan Pak Suka yang tak punya apa-apa. Meski sejak awal mereka punya perbedaan, tak ada yang bisa memisahkan persahabatan mereka. Hanya saja karena pembicaraan yang seketika menjadi serius, mereka mulai mengutarakan pendapat mereka tentang perbedaan.

Pak Suka rupanya merasa harus mengatakan apa yang diketahuinya tentang alam yang mereka tempati. “Bumi akan hancur.”

Pak Neka tertawa. Ia punya banyak pengetahuan yang bisa dilakukannya untuk membantah statement itu. “Kau terlalu pesimis, sobatku,” katanya. Ia seorang peneliti, pengembang, dan intinya, ia seorang penyihir yang bisa memperbaiki segala yang rusak dengan berbagai cara. Bahkan pemanasan global pun tak akan termasuk dalam cerita dunianya.

“Akan ada masa di mana kita akan dimintai pertanggungjawaban atas semua tindakan yang kita lakukan di dunia ini,” suara pak Suka meninggi. Ia tak ingin sahabat yang dicintainya itu berada di jalan yang berbeda darinya. Setidaknya, ia harus mengajaknya ke jalan kebenaran.

“Aku tahu. Tahu,” gumam Pak Neka. Tapi ia tertawa dalam hati. Temannya itu, seharusnya tak percaya dengan hal-hal mistis seperti itu. Sudah lama, ia ingin mengatakan kepada sobatnya itu untuk menikmati kehidupan dunia. Hidup teman yang sangat ia percayai kejujurannya itu terlalu monoton, setelah ini akan lakukan ini lakukan itu, dan begitu saja berulang. Ia sudah hapal betul.

Pak Suka menunduk. Ia yakin sahabatnya meski tahu, tapi tidak pernah mengerti. Padahal ia hanya ingin selamat bersama.

Untuk waktu cukup lama, Pak Suka dan Pak Neka diam, tak bersuara. Mereka lalu kembali ke rumah masing-masing. Hari berganti. Dengan Pak Suka yang belum bisa mengajak Pak Neka untuk setidaknya belajar tentang apa yang diyakininya itu pasti akan terjadi. Minggu berganti. Dengan Pak Neka yang belum bisa mengajak Pak Suka untuk bersenang-senang.

Advertisements