Cerpen M. Arif Budiman (Radar Selatan, 04 Februari 2019)

Cap Go Meh di Keluarga Akiong ilustrasi Istimewaw.jpg
Cap Go Meh di Keluarga Akiong ilustrasi Radar Selatan 

Akiong masih duduk di teras. Tangan kanannya menggapit sebatang rokok. Pandangannya lurus ke depan. Menghunus sekumpulan awan hitam di langit. Tak berapa lama hujan turun. Tanah-tanah kembali basah. Sesekali angin membawa butiran air menyapu wajah Akiong. Ia tetap bergeming. Tangan kirinya meraih cangkir kopi yang telah lama mendingin. Sedingin tatapan Akiong.

Ada kegelisahan dalam dada Akiong. Sebentar lagi Imlek datang, juga Cap Go Meh. Ia rindu mama. Rindu masakan mama. Rindu bunga-bunga yang ditanam mama. Rindu kue-kue buatan mama. Rindu Boni, herder yang ia pelihara sejak berusia dua hari. Ia rindu segala sesuatu yang ada di dalam rumah.

Tapi Akiong hanya sebatas rindu. Ia enggan melunasi rindunya. Padahal sudah tiga kali perayaan Imlek dan Cap Go Meh ia tak pulang ke rumah. Pernah suatu ketika pada malam sebelum perayaan Imlek, Akiong berencana pulang. Semua pakaian sudah dikemas ke dalam koper oleh Lili, istrinya. Lalu dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Setelah duduk di balik kemudi, Akiong malah terdiam. Istrinya bertanya kenapa. Akiong justru keluar mobil dan duduk di teras. Mengambil sebatang rokok lalu mengisapnya dengan penuh nafsu.

Melihat sikap Akiong yang tiba-tiba berubah, Lili pun ikut turun. Ia masuk ke rumah. Membuatkan secangkir kopi panas dan menyuguhkannya pada Akiong. Lili sengaja tak bicara sebelum Akiong yang memulainya. Setelah Akiong mulai bicara, ternyata ia teringat Aming, adiknya. Ya, ia memang tengah berseteru dengannya. Sudah lama. Tepatnya sehari setelah papa meninggal. Kala itu jenazah papa tengah dikremasi di perabuan. Aming datang dengan tubuh sempoyongan setengah mabuk. Akiong naik pitam. Aming dihajar habis-habisan. Beruntung beberapa kerabat berhasil melerai mereka berdua.

Tindakan Akiong saat itu bukan tanpa alasan. Sebagai anak tertua ia merasa ikut bertanggung jawab atas keluarganya. Ia merasa malu karena tak mampu membimbing dan mengarahkan adik-adiknya. Terutama Aming, satu-satunya anak laki-laki yang tinggal di rumah. Akiong menganggap Aming membiarkan papa lama menderita, karena tak segera membawanya ke rumah sakit. Memang kala itu Aming sudah dua hari tak pulang ke rumah. Ponselnya tak dapat dihubungi. Kata Amei, si adik bungsu, beberapa bulan terakhir sebelum papa meninggal, Aming sering keluar malam. Terutama semenjak ia berkenalan dengan seorang perempuan. Perempuan kenalannya itu sering mengajak Aming ke diskotek hingga dini hari dan Aming selalu pulang dalam keadaan mabuk. Dan papa memikirkan tentang hal itu.

***

Advertisements