Cerpen Mahan Jamil Hudani (Solo Pos, 03 Februari 2019)

Tuah Segelas Air ilustrasi Solo Posw.jpg

Tuah Segelas Air ilustrasi Solo Pos 

Aku sering sekali merasa heran sekaligus jengkel pada temanku, Mahfud. Bagiku, apa yang ia perbuat adalah sesuatu yang kurang bisa diterima akal sehat bahkan cenderung menyesatkan. Bagaimana tidak, jika ia merasa sedikit sakit saja semisal kurang enak badan atau demam ringan, ia sering memanggilku untuk menemaninya menemui Kyai Farid, meminta segelas air dari beliau. Kata Mahfud, air minum dari Kyai Farid sangatlah manjur untuk menyembuhkan banyak penyakit. Air itu mengandung tuah luar biasa karena telah mendapat doa dari Kyai Farid. Bukan itu saja, saat Mahfud akan mengikuti ujian atau tes kenaikan kelas, ia akan datang menemui Kyai Farid. Begitu juga jika ia ingin bepergian ke luar kota. Hampir semua tindakan yang Mahfud ambil—apa pun itu—Mahfud akan meminta segelas air terlebih dahulu pada Kyai Farid.

Aku tentu saja mengenal dengan sangat baik Kyai Farid. Aku dan Mahfud telah cukup lama menjadi santri kiai kharismatik itu. Sebagai seorang santri yang pernah belajar kitab langsung pada Kyai Farid—karena memang tak semua santri memiliki kesempatan mengaji kitab secara langsung pada kyai– tentu aku sangat menghormati beliau. Aku tentu juga percaya jika segelas air yang telah diberi doa Kyai Farid juga mengandung berkah. Hanya aku tidak setuju dengan sikap Mahfud yang menurutku terlalu berlebihan dan sangat mengultuskan beliau.

***

Malam itu, Mahfud mengalami demam cukup tinggi hingga ia susah bangkit untuk keluar rumah. Ia hanya bisa berbaring di tempat tidur. Ia lalu memintaku datang ke rumahnya yang berjarak hanya 100 meter dari rumahku. Tiba di rumah Mahfud, aku melihat ia sedang berselimut tebal dengan tubuh menggigil. Saat aku memegang keningnya yang begitu banyak mengeluarkan keringat, memang terasa begitu panas. Bahkan suaranya terdengar lemah dan bergetar. Aku sarankan pada orang tua Mahfud agar temanku itu disuruh minum obat atau pergi ke dokter, tapi menurut tuturan orang tuanya, Mahfud menolak tawaran itu.

Mahfud dengan diamini kedua orang tuanya lalu memintaku dengan sangat agar aku datang ke pesantren Kyai Farid untuk minta segelas air doa dari beliau. Sungguh aku tak punya cukup alasan untuk menolak permintaannya. Pesantren Kyai Farid tidaklah terlalu jauh dari rumah kami, sekitar 20 km. Jika berkendara dengan sepeda motor, kita bisa menempuhnya dalam 30 menit. Kota kecil kami belum mengenal macet dan kondisi jalan juga sangat bagus. Rumah Kyai Farid berada di kompleks bangunan pesantren tersebut.

Advertisements