Cerpen Pangeran P Muda (Tribun Jabar, 03 Februari 2019)

Perempuan di Atas Jembatan ilustrasi Wahyudi Utomo - Tribun Jabarw.jpg
Perempuan di Atas Jembatan ilustrasi Wahyudi Utomo/Tribun Jabar

DUGAAN perempuan itu sedang merancang kematiannya muncul di benakku ketika melihatnya lagi. Ini kali kedua, pada senja berbeda di ternpat yang sama. Ia bertelekan pada jerjak jembatan, menatap ke arah sungai. Sedikit lebih jauh, golak air sungai yang bergerak menuju muara dapat pula kulihat.

Jembatan berwarna kuning-terang yang sedang kulintasi ini, di samping terkenal sebagai ikon kota, juga kerap dibincangkan dengan nada miris sebagai jembatan kematian, tempat orang melempar tubuhnya ke dalam golak air sungai. Tinggi jembatan dari permukaan air sungai cukup untuk membuat tubuh penyek, sebelum deras air menghanyutkan ke muara. Belum pernah satu kali pun ada yang berkabar arus sederas itu pernah direnangi. Dan orang-orang percaya, buaya-buaya muara akan bersuka-cita menyongsong tubuh-tubuh tak berdaya itu. Telah banyak cerita beredar, mengatakan tubuh-tubuh jentaka itu hanya sebagian yang dapat ditemukan, dalam keadaan tak lagi bernyawa.

Kemarin tidak terpikir untuk mencegah. Aku hanya ikut di mobil teman kantor, tidak mungkin menghentikan mobil di tengah bentang jembatan lalu aku turun mendekati perempuan itu. Saat mobil telah lepas dari jembatan, baru kutanyai temanku, “Sepertinya, perempuan tadi merencanakan bunuh diri.”

Sekilas menoleh, temanku bertanya, “Perempuan yang mana?”

“Yang bertelekan pada jerjak jembatan.”

“Aku kok tidak melihatnya. Atau karena aku sedang menyetir?”

Berbeda dengan situasi kemarin, pada senja hari ini, coba kumaknai ini cara Tuhan mengirimku untuk menyelamatkan nyawanya.

Kulajukan motor, menghabiskan panjang jembatan, lalu menurun pada ujungnya. Selesai memarkir motor di tepi jalan, melalui jalur khusus pejalan kaki aku kembali mendaki ke atas jembatan, setengah berlari mendekat ke tempat berdiri perempuan itu.

Yang kuingat berbeda dari penampilannya kemarin, riap rambutnya kali ini ia tutupi dengan topi lebar berwama pink. Gaun yang ia kenakan tetap sama. Aku berhenti sekitar satu meter di sampingnya, dan ikut bertelekan pada jerjak jembatan. Kuturuti arah tatapannya pada permukaan air sungai yang bergerak resah menuju muara.

Advertisements