Cerpen Moh Romadlon (Kedaulatan Rakyat, 03 Februari 2019)

Percakapan Sandal ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyatw.jpg
Percakapan Sandal ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat 

SETELAH lama terpisah dua sandal beda kelas yang dulu pernah sama-sama menghuni salah satu mal di kota ini kembali bertemu di tempat sampah. Sebut saja Meli dan Pakalola. Meli sandal jepit kelas jelata, sedang Pakalola sandal kulit yang konon kelahiran Eropa.

Ketika melihat Pakalola tiba di tempat sampah, Meli yang sudah lama di situ betul-betul kaget.

“Lola, bagaimana ceritanya kau bisa sampai di sini, padahal kau masih kuat begitu?”

“Mel, kau tahu sendiri kan setiap manusia yang melihatku pasti terpikat, tetapi akhirnya Tuan Dinarlah yang berhasil memilikiku. Awalnya kupikir akan bahagia mengabdi pada wakil rakyat seperti dirinya. Tidak, aku malah sangat tersiksa. Dinar itu bukan manusia, tapi babi. Aku hanya dipakai untuk pamer dan bermaksiat. Aku sangat muak. Dan puncaknya saat aku diajak pergi ke kamar hotel mewah. Dengan mata kepalaku sendiri aku menyaksikan si Bedebah itu menerima suap sekoper uang dolar ditambah tubuh mulus si pemberi suap yang berambut pirang. Habislah kesabaranku. Kugigit kuat-kuat tubuhku sendiri hingga robek-robek. Dinar murka. Dengan iringan serapah aku dibanting ke tong sampah. Namun aku tak pernah menyesal karena hanya dengan itu aku bisa lepas dan tidak menjadi gila.”

“Posisimu memang sulit, Lola,” tanggap Meli. “Tapi tak seharusnya kau melukai dirimu sendiri seperti itu. Kau masih terlalu muda untuk menghuni tempat sampah saat ini.”

“Mel, sumpah, lebih indah menjadi sampah daripada mengabdi kepada si Bedebah itu! Aku betul-betul muak! Sekarang, ceritakan kisahmu padaku…”

“Lola tak lama setelah kau meninggalkan mal itu ada seorang manusia tua menuju tempatku. Ia betul-betul memilihku. Aku gembira karena aku akhirnya bisa mengabdi dan membantu manusia. Bukankan itu misi setiap sandal? Aku tak berpikir lain. Kegembiraanku bertambah saat tahu kalau aku akan dijadikan hadiah bagi istrinya yang ia panggil Sumi. Selanjutnya aku mengabdi pada Sumi. Ia sangat menyayangiku. Ia selalu mengajakku untuk melakukan hal-hal baik semisal memasak, mencuci, berwudhu, berangkat ke masjid, dan memulung.”

Advertisements