Cerpen Gunawan Maryanto (Kompas, 03 Februari 2019)

Minuman buat Para Penyair  ilustrasi Prajna Deviandra Wirata - Kompasw.jpg
Minuman buat Para Penyair ilustrasi Prajna Deviandra Wirata/Kompas 

Sederhananya, manusia terdiri dari 3 jenis: penyair baik, penyair buruk, dan bukan penyair. Dan ini semua memang bermula ketika dunia masih begitu sederhana. Kelika dua clang raksasa saling berkejaran di langit yang masih begitu muda.

Perang besar antardewa baru saja selesai atau mesti diselesaikan. Jika tidak perang, itu tak akan selesai dan Anda tak akan bisa membaca cerita ini, hari ini. Kaum Aesir, rombongan dewa-dewa yang galak, keras kepala, dan suka berperang, melawan para Vanir, dewa-dewa yang lembut hati, senang bersahabat, penyubur tanah dan tanaman.

Aesir biasanya dengan mudah—kadang juga tidak mudah—mengalahkan lawan-lawannya: para raksasa, serigala, naga, juga dewa-dewa lain. Tapi, tidak kali ini. Berhadapan dengan dewa pujaan para petani dan pencinta lingkungan, mereka akhirnya memilih berdamai. Bukan karena mereka tidak suka berperang lagi. Tapi, mereka butuh kemenangan. Atau kekalahan.

Perang tanpa kemenangan atau kekalahan seperti malam panjang yang tak berkesudahan. Malam panjang tanpa bulan—karena bulannya sudah dimakan serigala Fenrir—yang jika terus ditempuh hanya akan mengantarkan mereka kepada Hel. Neraka bagi mereka yang mati biasa-biasa saja.

Mereka tentu tak bisa membayangkan betapa membosankannya menemani Hel di dalam purinya yang gelap. Menemani putri Kegelapan itu makan malam menghabiskan makanan dalam mangkuk Kelaparan yang tak bakal bisa habis.

Vanir ternyata tak bisa dikalahkan, juga tak bisa mengalahkan mereka. Jadi, para Aesir memilih untuk berdamai. Dan kemudian mencari musuh lainnya—jalan yang akan membawa mereka menuju Valhalla, surga bagi para pejuang. Surga yang akan membuat mereka kembali bertarung dari hari ke hari. Bukan makan malam abadi bersama Hel.

Perdamaian itu diwujudkan dengan mengumpulkan ludah seluruh dewa yang bertarung dalam sebuah guci. Lalu mereka menggelar pesta besar. Thor, dewa petir dari Aesir, membawa ketel raksasa untuk membuat bir. Ketel itu dulu didapatkannya dari raksasa Hymir lewat sebuah perjuangan antara hidup dan mati tentu saja. Lain kali saja ceritanya. Sekarang mereka tengah berpesta dan bertarung lagi karena mabuk. Beberapa tanpa sengaja mati tertusuk pedang dan pergi ke Valhalla. Tapi, ada juga yang ke Hel karena mati tersedak makanan atau kebanyakan minum lalu jatuh ke jurang.

Advertisements