Cerpen Supadilah (Singgalang, 03 Februari 2019)

Menebus Rindu ilustrasi Singgalangw.jpg
Menebus Rindu ilustrasi Singgalang

MESKI diimbau untuk tidak menyeberang, Karmin tetap saja nekad. Tidak ada penyeberangan umum, dia pilih menyewa kapal feri milik satu keluarga yang memberikan tarif lebih mahal dari biasanya. Wajar. Mengingat keamanan yang semakin terancam. Setelah tsunami Selat Sunda di penghujung Desember kemarin, pelabuhan mengimbau agar warga tidak mendekati laut dan pantai. Namun, Kasmin merasa tetap harus segera sampai di tanah Andalas.

Di pergantian tahun ini, genap lima tahun dia berada di tanah seberang. Tanpa sekalipun pulang meskipun pada lebaran.

Puasa ia di rantau orang, begitu pula lebaran. Orang asyik dan merasa perlu mudik, ia lebih memilih untuk mengambil jatah lembur. Jatah temannya dengan suka cita dia ambil.

“Maafkan aku, Mak. Kerjaan lagi ramai. Sayang kalau tidak diambil. Supaya tabungan semakin banyak,” jawabnya saat Mamak bertanya lebaran tahun itu pulang atau tidak. Karmin berikan jawaban yang sama seperti satu dan dua tahun yang lalu.

“Ya wis nek ngono, ati-ati di rantau sana. Kalau ada waktu pulanglah,” lirih Mamak menjawab.

Karmin bohong. Tiap lebaran dia tidak mengambil lembur. Perusahaan semen merah putih tempat ia bekerja meliburkan karyawannya di lebaran. Maka semua pekerja mudik, kecuali yang jauh seperti dari Kalimantan, Papua, atau luar negeri sana. Bahkan Jamil yang dari negeri Jiran Malaysia itu pulang. Atau Mohammed Irfan dari Pakistan pun turut merasakan mudik Idul Fitri.

“Yakin kau tak mudik, Kasmin?” Pak Burhan, teman se-asrama bertanya. Saat itu pak Burhan sedang berkemas. Hitungan beberapa jam ke depan mobil sewaannya akan mengantar ke stasiun Jakarta sana. Pak Burhan bertolak dari stasiun Pasar Senen menuju stasiun Kediri, Jawa Timur. Dia lebih memilih menggunakan kereta untuk perjalanannya. Katanya, lebih nyaman.

“Padahal sudah dua tahun kau tak pulang. Pulanglah. Keluarga menunggumu,” tambah pak Bur han, sambil tangannya memasukkan potongan baju ke koper.

Pak Burhan hanya bawa satu koper saja. Karmin belum juga menjawab. Diam mengamati layar televisi. Arus mudik selalu ramai. Setiap melihatnya, ada kerinduan yang menghentak-hentak. Bukan dia tak ingin pulang. Tapi ada sesuatu yang menahannya. Menahannya untuk belum juga pulang hingga tahun kelima.

***

Advertisements