Cerpen Nilla A Asrudian (Suara Merdeka, 03 Februari 2019)

Membela Tuan Presiden ilustrasi Suara Merdekaw.jpg
Membela Tuan Presiden ilustrasi Suara Merdeka 

Langit di pinggiran selatan Jakarta berganti panas-adem-panas sepanjang hari. Mirip suasana rumah Bang Mamat dan Mpok Lela yang saban hari makin kagak puguh lagu. Tiga bulan menjelang pilpres, Bang Mamat kerap berantem lawan Mpok Lela, meskipun bukan adu jotos, cuma adu mulut. Perkaranya kagak laen kagak bukan: sama-sama ngotot calon tuan presiden pilihan masing-masing paling bener sedunia-akherat

Lewat pukul lima sore, panas matahari masih nyalang. Gemericik Kali Ciliwung terdengar sayup di kejauhan. Bang Mamat duduk di atas dipan bambu di beranda rumah yang sempit. Ia belum juga mandi. Bau mirip bandot campur apek meruap dari kaus lepek akibat keringat. Celana pangsi hitam lusuh yang dia pakai saat menyambangi satu rumah gedong ke rumah gedong lain, untuk mencari pohon yang hendak dipangkas atau rumput yang hendak dicukur rapi, masih membungkus bagian bawah tubuh.

Lelaki 40 tahunan itu lesu memandang jalan setapak yang sepi dari langkah kaki tetangga. Namun di dalam hati ia bersemangat menanti Mpok Lela pulang membabu dari rumah sang majikan. Tak sabar ia menyeruput kopi seduhan istrinya. Apalagi, pagi tadi, sebelum berangkat mengejar mimpi akan kehidupan yang lebih baik, mereka sudah berbaikan.

Pucuk dicita ulam tiba. Mata Bang Mamat menyala ketika Mpok Lela muncul dari balik pohon nangka di sisi pengkolan jalan. Sebersit gairah muncul di dada Bang Mamat saat melihat tubuh perempuan yang tetap demplon, meski telah didera kerja keras dan kesusahan selama mendampinginya bertahun-tahun. Namun gairah itu redup ketika sang istri tiba di beranda, meletakkan bungkusan berisi kaus di atas dipan yang dia duduki seraya berkata, “Nih ada kaus dari Bu Meri. Satu buat Lela, satu buat Abang. Lumayan kan buat pegi-pegi.”

Belum sempat Bang Mamat melihat kaus itu, Mpok Lela dengan santai berjalan sambil mengelupas sehelai stiker dan menempelkan di pintu masuk rumah mereka.

“Eh, eh, apaan tuh maen templok-templokin aje di pintu?”

Bang Mamat melongo sambil menghardik istrinya, benar-benar telah lupa pada gairah yang meletup di dada. Kesal pula karena sang istri tak segera menggubris keberadaannya.

Advertisements