Cerpen Angga T Sanjaya (Minggu Pagi No 44 Th 71 Minggu I Februari 2019)

Lelaki yang Mencari Hujan ilustrasi Minggu Pagiw.jpg
Lelaki yang Mencari Hujan ilustrasi Minggu Pagi 

Sukimin mengangkat wajah, hingga raut muka itu menunjuk langit. Matanya menerobos jauh, kemudian lenyap dalam tempias cahaya yang silau.

Pada terik itu, Sukimin melemparkan keluh kesah. Mengapa hawa panas tidak juga lenyap dari rumah, dari kamar-kamarnya yang sempit. Mengapa makin hari musim menjadi tidak bersahabat. Kemarau terlanjur berkepanjangan, dusun menjadi sangat panas dan gerah.

Sukimin tertunduk lesu. Selama apapun dia menatapnya, langit akan selalu diam, dan tentu saja sunyi.

Tapi bagaimana pun ada rasa syukur yang juga harus diucapnya saat ini. Langit memang sedang tidak bersahabat, tapi ada kebahagiaan kecil yang setidaknya mampu membuat sejuk hatinya.

Sudah seminggu ini istri Sukimin ngidam. Ini anak pertamanya dengan perempuan yang dinikahinya tujuh tahun lalu. Setelah sekian lama tidak datang momongan, untuk kali pertama ini Sukimin ingin memberi kasih sayang penuh.

Akan tetapi prosesi ngidam istrinya tidak semudah yang dia kira, bahkan Sukimin menilai ini sangat tidak wajar. Pada bulan keempat kandungan istrinya, Sukimin begitu kaget mendengar permintaan sang istri. Sukimin terperanjat. Matanya terbelalak. Rengekan istrinya bersarang di dadanya. Begitu pelan, namun juga tajam.

Sebab di tengah cuaca panas dan kemarau yang membabi buta. Sang istri justru meminta sesuatu yang paling langka dan sulit untuk diwujudkannya; hujan. Ya, Atun meminta hujan saat itu juga.

Sukimin yang tidak ingin menyiakan kesempatan menjadi seorang ayah, tentu akan melakukan apapun untuk memenuhi permintaan istrinya.

Dia pun beranjak.

***

Sukimin tertegun, memaku di teras. Pintu digedornya lagi, tapi rumah masih saja lengang. Ia mendekatkan kupingnya ke lubang pintu. Lamat-lamat suara dengkuran merambat, bergesekkan dengan udara, dan terpelanting ke liang telinga Sukimin.

Pintu kembali digedor dengan pukulan keras. Dengan hentakan yang merubuhkan kantuk dan lelap.

“Kang Marto, ini Sukimin. Buka pintu Kang.”