Cerpen Wina Bojonegoro (Jawa Pos, 03 Februari 2019)

Lelaki Peri ilustrasi Budiono - Jawa Posw
Lelaki Peri ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

Berita tentang apa sanggup mendidihkan darahmu?

“Musim semi dan festival bunga tulip adalah dua bagian paling diburu di seluruh Turki. Kau harus tahu bahwa Tulip itu berasal dari Turki, bukan Belanda.” Sejenak kubiarkan tubuhku digenggam bulan Desember: beku.

“Berkunjunglah ke Istambul.” Kalimat itu bagaikan gelombang tsunami yang menghajar seluruh peradaban. Sedikit, namun telak.

Sam, aku telah menunggu kabar tentangmu begitu lama. Entah sudah berapa kali musim semi, berapa kali festival bunga tulip terlampaui.

“Sudah kau terima e-mail itu?”

“Ya, tapi…”

“Anggap saja, kau memenangkan lotre.”

“Ya. Hanya saja…”

“Aku telah menyewa properti tak jauh dari Masjid Biru, hanya beberapa ratus meter dari lapangan Sultan Ahmed. Dua kamarnya menghadap selat Bosporus. Kau tak perlu mencemaskan cuaca, ada pemanas di musim dingin, juga pendingin udara di musim panas.”

Tentang musim, cukup bagiku menikmati sihirmu, ratusan surel berisi hasil bidikanmu. Caramu itu berhasil menyemai mimpi pada dinding khayalku.

“Itu tiket pulang pergi sudah tertera atas namamu. Jadilah tamuku.”

“Kau baik sekali…” terasa datar, tapi aku menuliskannya dengan melunjak-lunjak.

“Itu hadiah buatmu. Anggap saja traktiran gaji pertamaku di kampus ini. Kamu sudah tahu bahwa bahasa Indonesia mulai dijadikan kelas khusus di Turki?”

“Kudengar begitu…”

“Maukah kau menjadi dosen tamu di sini?”

Sengaja atau tidak, terencana atau spontanitas, kau pintar membuat kejutan. Sejak dulu. Harus kuakui, ini fakta yang menyebalkan tentangmu. Empat tahun yang penuh dengan busa. Riuh selalu, namun tak ada muara yang menandakan kita akan menujunya. Tiba-tiba sekarang, kau menjanjikan dirimu sebagai tuan rumah selama aku berkunjung ke Turki, menyiapkan tiket pesawat round trip senilai delapan juta. Dan menawarkanku untuk menjadi dosen tamu pula. Wow pangkat berapa harus kuterakan?

Advertisements