Cerpen Soni Farid Maulana (Pikiran Rakyat, 03 Februari 2019)

Gagak Sial ilustrasi Safa'at - Pikiran Rakyatw.jpg
Gagak Sial ilustrasi Safa’at/Pikiran Rakyat 

AKU pindah rumah, ternyata gagak sialan itu mengikuti aku. Ia selalu berkoak-koak bila tengah malam tiba. Kesal dengan itu, aku pinjam bedil mimis pada sahabatku. Nah, ketika berkoak-koak lagi di atas genting rumahku, segera aku bidik. Alhamdulillah kena, dan gagak itu pun terjungkal ke bawah. Aku ambil bangkainya sebelum dimakan si meong, lalu aku bakar. Setelah itu, aku buang ke Sungai Nagawiru.

SEJAK itu rasa sakit di tubuhku mulai hilang. Sebelum rasa sakit hilang, aku muntah darah disertai beberapa biji paku kecil. Aku kaget dengan semua itu. Sahabatku yang tahu atas kejadian aneh yang menimpa diriku—segera—menghubungi orang pintar. “Teluhnya telah kau gagalkan dengan menembak burung gagak itu. Bersabarlah, Allah swt akan membalasmu dengan segalanya kebaikan,” ujar orang pintar.

Atas kejadian tersebut aku lama termenung. Apa salahku selama ini, kok orang itu main teluh seenak udel? Apakah ia mengira dirinya orang suci? Jika melakukan kezaliman terhadap orang lain, apa artinya sebutan orang suci bagi dirinya? Sungguh aku tak habis pikir dengan semua itu, juga dengan sepasukan orang-orang yang disuruhnya membenci keluargaku, dan menggibah keluargaku di mana-mana.

Benar kata Rasulullah saw, orang yang bangkrut di hari akhir adalah orang yang menumpuk kebaikan, tapi semua itu habis dikuras oleh segala kezaliman yang dilakukannya terhadap orang lain. “Itulah orang yang merugi,” ujar Ustad Abdul Somad dalam sebuah pengajian, yang aku dengar melalui jejaring sosial.

“Mari aku periksa tubuhmu,” kata orang pintar. Lalu aku mendekat kepada dirinya. Diraba dan dibacakan doa setiap inci tubuhku. Hasilnya tiba-tiba terasa ada yang keluar dari kepalaku. Sakitnya bukan main. Aku seperti diserang vertigo. “Alhamdulillah, sudah kabur setan yang diperintahkan majikannya yang mengganggu dirimu. Ia akan merasakan akibatnya,” ujar orang pintar. Dan aku menganggukkan kepalaku.

Malam semakin larut dan tua. Desir angin dari ranting ke ranting pohonan terdengar nyaring di luar jendela. Terdengar suara si meong mengerang di atas tembok, dengan erangan yang panjang. “Apa yang terjadi dengan si meong?” batinku. “Insya Allah sejak hari ini gangguan mistik itu hilang. Teruslah berzikir dan minta perlindungan kepada Allah swt,” tutur orang pintar, menasihatiku.

***

Advertisements