Cerpen Dhito Nur Ahmad (Fajar, 03 Februari 2019)

Daeng Kahar ilustrasi Fajarw
Daeng Kahar ilustrasi Fajar

Bila ada orang becerita politik, muka Daeng Kahar akan tampak sedikit masam. Wajahnya akan tiba-tiba merah padam dan bibirnya gemetar setiap berkata. Saya tak tahu sejak kapan itu terjadi. Seingatku, semenjak wangi politik makin ranum saja dibicarakan di negeri ini, dia sudah begitu.

Dan ketika semangat kepahlawanan semakin meriak kepermukaan dan makin dibicarakan orang-orang, ia makin menjadi. Ia telah mengidolakan sosok Soekarno tepat delapan tahun setelah ia lahir, pun ia tumbuh dan besar tepat zaman pergolakan kemerdekaan. Zaman, saat semangat dan suara lantang bapak bangsa itu tersiar di banyak tempat: di radio, di tv, ataupun di surat kabar. Kerap pula Presiden Soekarno memasuki kepalanya, lalu dari bibirnya bermekaran putik-putik senyum, mengembang sempurna, lalu gugur saat itu juga.

Telah delapan puluh tahun ia sekarang. Ia penghuni rumah panggung yang terletak di belakang rumahku. Tinggal sendiri di rumah tuanya bersama ayam dan itik-itik peliharaannya.

“Kau anak siapa?” tanyanya pertama kali saat berkunjung ke rumahnya, melihati anak-anak yang belajar mengaji di beranda.

“Anaknya Baso, Daeng!” begitu kujawabkan

“Ooh, kau Nak. Maklum sudah tua, sudah tak bisa mengenali wajah dengan jelas. Apa kabar dengan bapakmu Nak, baik-baikkah ia di kota?”

“Alhamdulillah, Karaeng. Semuanya baik dan sehat”

“Saya kenal baik dengan bapakmu, sayalah dulu yang mengajarinya membaca, mengaji, dan mengasah pisau.”

“Kamu sudah pintar mengaji nak?”

“Sudah kek, saya belajar di TPA.”

Daeng Kahar kemudian tersenyum, mengangguk-ngangguk perlahan. Ia senang sekali pada anak yang tahu mengaji.

Advertisements