Cerpen Ida Fitri (Koran Tempo, 02-03 Februari 2019)

Mahar Empat Puluh Tujuh Jeumpa ilustrasi Munzir Fadly - Koran Tempow.jpg
Mahar Empat Puluh Tujuh Jeumpa ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

Pada catatan kaki sebuah buku yang gagal untuk diterbitkan, tersebutlah perjalanan seorang pelaut Prancis, Maurice yang Jangkung saat berlayar ke Ceylon; kekurangan air minum membuat lelaki itu menurunkan jangkar di sebuah dermaga yang terletak di ujung Samudera, sebuah dermaga yang air sungainya tidak akan keruh meski disimpan selama enam bulan di atas galiung. Maurice, seperti halnya orang-orang Eropa yang telah beradab dan mengenal hukum undang-undang, begitu terkejut melihat apa yang dilakukan oleh penduduk pulau. Untuk lebih memahami apa yang terjadi di pulau tersebut, mari kita dengarkan cerita Maurice di ruang duduk rumahnya yang berlantai dua di Marseille, menjelang musim semi tahun 1751, tiga hari sebelum Maurice menemui Tuhannya di alam baka, itu pun semisal Maurice masih mempercayai keberadaan Tuhan. Lelaki itu memilih kota pelabuhan itu di masa tuanya, karena lautan adalah kehidupannya yang lain. Berkatalah Maurice pada Abelia dan Ferdinand, cucu perempuan dan cucu laki-lakinya dari sang putra yang kini menjadi ahli perkapalan, menggantikan peran Maurice yang telah keriput.

“Kapal kami merapat ke Bandar Achey melalui pintu kedua, menghindari karang-karang yang mengutuk setiap kapal yang melaluinya. Kami disambut oleh orang-orang pendek kulit berwarna yang memiliki bahasa yang tidak kami kenal sebelumnya. Beruntung, beberapa dari mereka mengerti bahasa Melayu, kebetulan aku sendiri dan beberapa awak kapal kami juga telah mempelajari bahasa tersebut. Kami dituntun melalui mulut sungai, menuju kota mereka, di mana rumah-rumah dibangun di atas tiang dengan dindingnya dari jalinan bambu. Kami dijamu di sebuah rumah milik orang aneh bernama Meurah Saga, dan untuk tempat penginapan itu, kami harus membayarnya dengan sangat mahal. Andai tidak kehabisan air minum, tentu kami tak sudi berlabuh di bandar yang dipenuhi orang udik setengah pemeras itu.”

“Yang lebih menarik, kami dilayani oleh empat puluh tujuh perempuan yang berbeda selama empat puluh tujuh hari kami tinggal di tempat itu. Lada dan emas adalah alasan yang membuat kami betah tinggal lebih lama dari sekadar mampir untuk mengisi gentong air minum. Suatu hari, setelah mengurus gudang lada miliknya, Meurah Saga datang menemui kami. Sebelumnya, tanpa diketahui awak kapalku, aku telah sangat tertarik pada perempuan ketiga puluh yang datang untuk meladeni kami, membersihkan rumah dan menyediakan makanan. Perempuan mungil berkulit gelap dengan senyum yang sangat manis. Mulanya, kukira itu ketertarikan alami seorang pelaut pada perempuan yang ditemui di daratan demi untuk menunaikan berahi semata. Untuk kebaikan semua pihak, aku mendatangi sebuah rumah bordir yang berada di utara kampung demi memenuhi hasrat yang sudah lama tertahankan di atas birunya samudra. Ternyata aku salah, wajah perempuan mungil itu tetap datang dalam mimpiku, bahkan mulai ingin mencekikku karena pengkhianatan yang kulakukan. Ketika Meurah Saga muncul di rumah yang disewakan kepada kami itu, aku mencoba berbasa-basi, kelihatannya Tuan memiliki sangat banyak pelayan perempuan, setiap harinya kami dilayani oleh perempuan yang berbeda….”

Advertisements