Cerpen Agus Nurjaman (Pikiran Rakyat, 27 Januari 2019)

Bukit Pertemuan ilustrasi Fauzia Khoirunnisa - Pikiran Rakyatw.jpg
Bukit Pertemuan ilustrasi Fauzia Khoirunnisa/Pikiran Rakyat 

NAMAKU Muhamad Bagaskara, teman-teman biasa memanggilku dengan sebutan Bagas. Aku sering dijuluki si anak batu, mungkin karena aku memiliki karakter yang sangat pendiam. Tapi aku sama sekali tidak pernah marah dengan julukan itu, pikirku itu hak mereka menjulukiku seperti itu.

SEBENARNYA aku hanya tidak ingin banyak omong apalagi jika omonganku itu tidak bermakna rasanya tidak penting bagiku. Usiaku sekarang menginjak 13 tahun, angka yang bagi sebagian orang memiliki makna yang sangat buruk.

“Aku merinding jika aku ingat angka itu, rasanya ngeri sekali, kata orang sih itu angka sial!” Aku mencoba untuk tidak percaya tentang angka itu.

“Aaah… semua angka bagiku sama.” Aku sering menepis tentang hal ini. Tapi rasa itu begitu kuat manakala teman-temanku selalu mengatakan akan hal itu. Perlahan aku pun terpengaruh dengan mitos itu, angka itu memang sial bagiku dan aku memiliki buktinya. Di saat usiaku 13, aku memiliki pengalaman yang tidak akan pernah dilupakan, bagiku itu cukup bahwa angka itu memang sial bagiku.

Miris memang di zaman milenial ini masih memercayai hal mistis seperti itu. Tapi itulah yang terjadi, di usiaku yang ke 13 aku mengalami kesialan itu. Pengalaman itulah yang membuatku yakin akan mitos angka itu. Tiga belas adalah angka sial dalam hidupku. Dalam satu kesempatan aku pernah bertanya tentang hal itu pada ibuku.

“Bu! Percaya enggak kalau angka 13 itu adalah angka sial?” tanyaku pada ibu sambil menatap ke arah ibu yang sedang terduduk sambil mengerjakan sulaman pesanan orang tidak jauh dariku.

“Apa? Kok, kamu bertanya seperti itu, Gas?” jawab ibuku sambil beranjak dan duduk persis di sampingku, dia hentikan sulamannya. Sesaat kemudian tangannya membelai kepalaku. Entahlah aku merasa nyaman setiap kali ibu membelai kepalaku. Seperti halnya saat itu, terasa sangat nyaman, aku memang sangat dekat dengan ibu.

“Iya, Bu! Banyak temanku yang bilang kalau angka itu begitu sial…!” ujarku tersendat. Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku karena ada desakan kesedihan dalam dadaku yang begitu hebat menerjang. Aku hanya bisa menarik napas yang panjang sekali. Aku tidak sanggup berkata-kata, lidahku terlalu kelu untuk berucap. Terasa dadaku terimpit desakan kesedihan yang teramat dalam. Hingga membuat napasku tersenggal-senggal.

Advertisements