Cerpen Risen Dhawuh Abdullah (Haluan, 27 Januari 2019)

Sureng ilustrasi Istimewaw.jpg
Sureng ilustrasi Istimewa

Sesungguhnya Sureng sudah tak sudi lagi hidup dengan Dasima. Perempuan tujuh puluh tujuh tahun yang notabene istrinya. Jika bunuh diri tak dilarang Tuhan, barangkali ia sudah gantung diri di pojok rumah, atau menyilet nadi, atau menusuk perut dengan pisau terasah.

Sejak Dasima jatuh di kamar mandi, Sureng merasa hidup semakin tidak adil. Pada mulanya Sureng bisa memahami, ia harus legowo menggantikan pekerjaan rumah yang seharusnya dilakukan Dasima. Sejak terjatuh, kaki Dasima memar. Katanya, sakit sekali jika digerakkan. Apalagi dibawa berjalan. Ia sering menjerit-jerit. Tetapi setelah berhari-hari, kepada Sureng, perempuan itu mengaku masih sakit. Padahal, meski mata Sureng sudah rabun, ia bisa tahu bahwa memar itu sudah hilang.

Hati kecil Sureng tak percaya. Namun, karena Dasima adalah istrinya, maka ia pun dengan setengah hati menerima alasan itu dan bertahan hingga saat ini. Meski Sureng kerap membentak Dasima dan mengatakan bahwa kaki perempuan itu sejatinya sudah sembuh. Sebab jika dihitung dari waktu jatuhnya Dasima di kamar mandi, maka itu sudah sekitar lima bulan.

“Aku sebenarnya kasihan juga kepadamu, Pak. Tetapi kakiku tak kunjung sembuh, apa boleh buat?” kata Dasima dengan wajah memelas. “Mungkin tulang kakiku retak atau bahkan patah, sehingga rasa sakit masih ada meski memar sudah hilang,” sambungnya.

Sebelumnya, Dasima terkenal rajin di kalangan tetangganya. Dulu, setiap hari ia bangun jam tiga pagi. Dari tempat tidur, ia pergi ke sumur, memenuhkan bak mandi, lalu menanak nasi. Sehingga sebelum jam enam pagi, sarapan pagi sudah tersaji.

Sepasang suami-istri itu memang tak dikaruniai anak. Dasima sungguh merasa kesepian karenanya. Apalagi saat ia sedang sendiri dan tak ada Sureng di sampingnya. Ia kerap meneteskan air mata. Ia iri dengan orang-orang seusianya. Dasima merasa hari tuanya tak berwarna. Andai ia punya anak, tentu ia bisa enak-enakkan tidak melakukan ini dan itu. Dasima punya saudara, meski bukan saudara kandung. Tetapi tak ada satu pun dari mereka yang peduli padanya. Sureng pun tak punya siapa-siapa. Satu-satunya saudaranya sudah meninggal tiga tahun lalu.

Advertisements