Cerpen Riyan Prasetio (Singgalang, 27 Januari 2019)

Penghuni Sebelah ilustrasi Singgalangw
Penghuni Sebelah ilustrasi Singgalang 

AZAN magrib berkumandang lantang dari toa masjid dan musala. Menandakan bahwa bola raksasa berwarna kemerahan telah tenggelam beberapa menit yang lalu. Wajah lelah, pakaian kusut, dan juga bau keringat yang menyengat menjadi teman Karjo berputar-putar mencari tempat kos. Pasalnya dua hari yang lalu ia mendapat peringatan keras dari pemilik kos. Seringnya telat membayar dan juga kenaikan tarif kos per bulan menjadi alasan kuat bagi Karjo mencari tempat kos yang baru.

Mulanya ia berpikir begitu mudahnya menemukan kos yang murah dan nyaman. Setiap kali kakinya berhenti melangkah ketika melihat papan pengumuman yang ada di depan rumah. Papan yang berisi informasi bahwa tempat tersebut menerima kos ataupun dikontrakkan. Berbinarlah wajah Karjo sembari berharap rasa lelahnya segera tuntas dengan menemukan tempat kos yang diimpikannya itu. Berbangga dan membandingkan dengan tempat kos yang pemiliknya seperti anjing kelaparan jika mendapati salah satu penghuni kosnya telat menyetorkan uang sesuai tanggal yang telah ditentukan.

Salah seorang yang merupakan pemilik kos menyambut kedatangannya dengan ramah. Mengajak melihat-lihat keadaan kos, memamerkan fasilitas yang ditawarkan. Ukuran kamar yang luas jika ditempati seorang diri. Ditambah tersedianya lemari kayu yang meringankan penghuninya agar tidak membeli lemari lagi. Satu toilet yang digunakan untuk empat kamar dengan kondisinya yang selalu bersih karena setiap harinya ada petugas kebersihan.

Betapa terkesimanya Karjo dengan semua fasilitas yang ditawarkan. Ia bahkan sempat membayangkan bisa tinggal dengan nyaman di kos tersebut. Menilik pemiliknya tidaklah secerewet Bu Kosnya saat ini.

“Per bulannya berapa, ya, Pak?” tanya Karjo saat hatinya telah kepincut untuk segera pindah ke kos tersebut.

“Delapan ratus ribu, Dik. Belum termasuk uang listrik dan juga kebersihan,” jelasnya mengumbar senyum.

Seketika tenggorokan Karjo terasa kering. Susah payah menelan ludahnya sendiri. Hati yang tadinya bahagia karena telah menemukan kos yang nyaman, bersih, rapi, dan segala tetek bengeknya yang mewah ternyata dibandrol cukup mahal. Bisa kempes saku celananya setiap bulan hanya demi membayar uang kos saja. Bahkan gaji bulanannya sebagai tukang sapu jalananya hanya tersisa lima ratus ribu saja. Untuk beli beras, sambal, dan rokoknya saja sepertinya tidak bakalan cukup. Belum lagi kebutuhan mendadak lainnya. Ditambah masih membayar uang listrik bulanan dan juga uang kebersihan.

Advertisements