Cerpen Ilyas Ibrahim Husain (Fajar, 27 Januari 2019)

Pe=En-Nes ilustrasi Fajarw.jpg
Pe=En-Nes ilustrasi Fajar

Ayahku selalu berpesan kepadaku bahwa saya harus jadi Pegawai Negeri Sipil atau PNS, katanya masa depan seorang PNS menjanjikan. Selain gaji lancar tiap bulan, jenjang karir jelas, seseorang juga telah beramal dengan menjadi abdi pada negara. Mendengar pinta ayahku saya hanya selalu berkilah bahwa menjadi seorang PNS bukan passion-ku. Saya lebih tertarik menjadi seorang pengusa—dengan mengelola kedai kopi.

Yah bukan namanya ayah jika mudah menyerah dengan keinginannya, setiap ada kesempatan pasti beliau meminta kesediaanku menjadi PNS, apatah lagi dengan statusku yang sarjana pendidikan ini ayah selalu membujukku dengan perkataan, “Percuma, Nak! Kamu sarjana pendidikan, sia-sia ilmu kamu jikalau memilih terjun di dunia usaha, apalagi usaha kedai kopi yang kau jalankan seperti ini sarat akan ketidakpastian pendapatan lebih baik kamu manfaatkan gelar sarjana pendidikanmu dengan menjadi PNS, mengajar di sekolah yang akan membantumu sebisa mungkin agar secepatnya bisa terangkat jadi PNS.”

Saya hanya menghela napas pelan jikalau ayah berkata demikian, apakah ayah belum pernah membaca berita yang yah?? Kalau usaha yang kujalani ini sedang naik daun. Apatah lagi konsumsi kopi bagi kalangan milienial semakin hari semakin meningkat.

“Maaf ayah, saya sudah nyaman dengan profesi yang kugeluti, menjadi seorang abdi negara bukanlah warnaku. Warna saya ada pada kopi, it’s my passion. Saya lebih sreg dan merasa cocok bermesraan dengan mesin kopi, biji-biji kopi ketimbang harus mengenakan pakaian keki—dengan tanda-tanda kepangkatan yang tersemat di dada dan di pundak—lalu mengajar di depan kelas.” Sahutku padanya. Yah! Like father, like son! Begitulah pepatah berbahasa Inggris, selaku anak ayah saya tak mudah goyah akan bujuk rayu. Selalu saja ada alasan yang kuutarakan pada ayah.

“Maaf ayah, menjadi abdi negara bukan keinginanku, bukan warnaku, saya lebih menikmati menggeluti usaha ini walaupun tak dapat dinafikan hasilnya tak seberapa, tapi ada kesenangan tersendiri ketika melihat para pelanggan kedai kopiku tersenyum puas kala menikmati hasil racikan kopi yang kubuat. Dan rasa itu tak bisa dinilai dengan uang.”

Advertisements