Cerpen Thiya Rahmah (Media Indonesia, 27 Januari 2019)

Nuri ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesiaw.jpg
Nuri ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia 

ATAP sirap menghirup layu bau asap dari tungku kayu di dapur. Berkali-kali Nini Laba meniup selongsong bambunya untuk menjaga bara tetap membara. Ia menggoreng ikan asin, sambil sesekali mengaduk beras yang masih basah setengah lunak. Lalu menyeduh teh, menunggu daun-daun kering kecokelatan menguarkan isinya ke dalam air panas di teko kecil. Setelah panci nasi ditutup, dan ikan diangkat dari wajan. Nini Laba menuangkan teh ke dua buah gelas dan mencampurkannya dengan air tawar. Tak lupa gula, hanya satu sendok makan, untuk satu minuman.

Nini Laba harus berhemat. Musim hujan membuat getah karet sulit disadap karena medan yang berat. Apalagi penampung getah sering banjir dan membusukkan isinya. Membuat Nini Laba dan suaminya rela mengais rezeki dari memancing ikan. Kadang mereka membersihkan lahan demi upah beberapa ribu rupiah untuk membeli gula, garam, teh, dan bawang.

Bakul berisi nasi disajikan di atas meja makan yang reyot. Bersama Kai Djamal yang menunggu sambil mengasah pengukir. Setelah ini ia akan menyadap, tidak peduli hujan baru turun semalam.

“Makan,” ujar Nini Laba. Keduanya menikmati ikan asin mereka dengan khidmat. Secepatnya, Kai Djamal menandaskan isi teh yang mendingin. Lalu mengambil tas rotan yang dipanggul di punggung, kemudian pergi tanpa mengucapkan salam. Nini Laba ditinggalkan sendiri dalam temaram cahaya dapur yang sayu.

***

Kehidupan pasangan tua itu menyedihkan. Nini Laba hanya buruh serabutan. Sementara Kai Djamal ialah penyadap karet di lahan yang tidak luas. Padahal dulu mereka masyhur, hidup berkecukupan, dan tidak kekurangan sesuatu apa pun. Mereka tidak perlu mengikat perut dan menahan liur jika ingin penganan manis. Cukup pergi ke batang, tempat perahu-perahu penjaja sembako dan jajanan tertambat, tukar uang, dan dapatlah segala kebutuhan yang mereka inginkan.

Sekarang mereka renta, hidup serbaterbatas. Harta habis demi menyambung pendidikan anak semata wayang ke kota, yang selalu dibangga-banggakan Nini Laba sebagai calon dokter. Anak perempuan satu-satunya: Nuri, yang terbang ke luar sarang dan sesekali kembali untuk menceritakan pengalaman hebatnya di ibu kota provinsi.

Advertisements