Cerpen Riyan Prasetio (Padang Ekspres, 27 Januari 2019)

Lelaki yang Menunggu Kepulangan Istrinya ilustrasi Orta - Padang Ekspresw.jpg
Lelaki yang Menunggu Kepulangan Istrinya ilustrasi Orta/Padang Ekspres 

Tarmo mengetuk pintu rumahnya berulang kali. Tidak ada suara yang menyahut dari dalam. Diketuknya pintu kayu itu lebih keras menggunakan jemari tangannya. Sedangkan mulutnya tetap terkatup rapat dengan raut lesu yang menghiasi mukanya. Rambutnya tak lagi berwarna hitam legam seperti dulu. Uban mulai tumbuh di sana. Menandakan kalau usianya tak lagi muda.

Sebentar lagi ia juga akan pensiun menggunakan seragam pegawai. Menikmati masa tua dengan bersantai bersama keluarga. Hanya saja, kali ini raut mukanya benar-benar murung. Kesedihan dengan cepat menjamur, memenuhi wajahnya yang mulai keriput.

Merasa lelah karena tak kunjung ada yang mendengar suara ketukan pintu. Dirogohnya kunci rumah dari salah satu saku celananya. Sebetulnya ia sudah tahu. Mengetuk pintu hanyalah perbuatan sia-sia dikarenakan rumahnya tiada berpenghuni. Ia tinggal sendirian. Kedua anaknya sudah menikah dan memilih tinggal berpisah dengannya. Katanya tidak bebas, kurang srek jika sudah menikah tetapi masih tinggal bersama kedua orang tua.

Tarmo tak peduli akan hal itu. Ia lebih memedulikan hari-hari ke depannya akan teramat panjang dan sepi. Keheningan menyambut kepulangannya kali ini. Untuk pertama kalinya ia tidak mendengar suara lembut yang menyambut kepulangannya. Tak tampak lagi senyum tulus yang biasanya hadir di ambang pintu. Semua sirna, menyisakan hening yang mencekam di hati.

Pelan sekali ia berjalan. Ditutupnya pintu utama tanpa perlu menguncinya. Ia masih ingin menunggu kedatangan seseorang yang telah pergi. Harapan itu belumlah sirna meskipun pada akhirnya ia harus mengalah kepada sang takdir. Takdir yang telah memisahkan dan merebut segala unsur yang mendatangkan kebahagiaan di rumah mewah itu.

“Ma … Papa pulang,” ujarnya lirih.

Tatapannya menyapu bersih ruang keluarga. Tidak ada suara televisi yang biasa terdengar bising. Majalah-majalah yang biasanya terbuka di atas meja kaca tak lagi terlihat. Juga segelas teh hangat yang biasa ia seruput begitu saja tanpa perlu meminta izin kepada si empunya kini berganti dengan angin yang berembus lembut menyentuh permukaan kulitnya. Kosong. Ia benar-benar bersama kekosongan yang mencekam.

Advertisements