Cerpen Angga T. Sanjaya (Radar Banyuwangi, 27 Januari 2019)

Gambar ilustrasi Radar Banyuwangiw.jpg
Gambar ilustrasi Radar Banyuwangi 

AGUS Dobleh mengangkat senjatanya. Membidik. Lalu dengan cepat melesatkan pelurunya. Beberapa lewat, tapi ada satu longsong yang bersarang di dada, “Plook!” Suara jerit melengking, diikuti badan yang tertelungkup ke tanah. Kemudian dia membidik dua musuh yang lain.

Adu tembak bersahutan di antara pohon-pohon jati yang lesuh. Satu orang tertembak tepat di lehernya. Darah mengucur deras. Tinggal satu musuh lagi. Tapi sebelum sempat ia mengisi amunisi dan membidiknya. Lengan tangannya lebih dahulu tertikam, “Plook!”. Kali ini ia tidak dapat menghindar. Lengannya perih, dan mati rasa. Dalam keadaan seperti itu, dalam jarak lima meter, musuh mengarahkan senjatanya tepat di kepala, “Plook!” Mata Agus Dobleh terpejam. Beberapa saat, ia dengar suara seseorang melengking.

“Banguunnn, Bleh!” Agus Dobleh menengok ke belakang, dari kejauhan Eko Klewer mengacungkan senjata. Pelurunya itulah yang melesat tajam ke arah mata lawan. Musuh itu jatuh dan kejang.

Agus Dobleh bergegas, dengan satu tangannya meraih merah putih di selipan pinggangnya. Sambil menyeret tubuh yang sejak tadi longsor, ia memberikannya dengan susah payah pada Eko Klewer. Bendera merah putih itu dibawa naik pada pohon jambu. Lalu pada ranting tertinggi diikat erat-erat. Saat itu angin kencang mengibarkan bendera begitu anggun. Dua anak itu berteriak kencang dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Mereka berhasil merebut kemerdekaan.

Tidak lama berselang hujan datang dengan kepedihannya. Membawa petir dan auman langit yang memberat di telinga. Guntur pecah, seperti suara atap seng yang dipukul angin. Hujan pun turun membabi buta melebihi serangan peluru yang memburu dari segala pejuru. Di antara gemuruh hujan yang beradu dengan segala macam benda, di sela-sela riuh suara itu, suara Mbah Mo, melaju dari kejauhan. Suara serak dan vokal yang berat itu terlempar pada anak-anak yang sejak siang tadi bermain tembak-tembakan.

Mendengar panggilan Mbah Mo, anak-anak berlari menuju kursi bambu di rumahnya. Anak-anak itu menerobos hujan. Berlomba mencapai mulut dapur. Mereka mendarat pada tanah liat yang licin. Tubuhnya terhempas dan terhenyak. Mereka berangkulan, diikuti gelak tawa menyembur ke udara.

Advertisements