Cerpen Putra Hidayatullah (Koran Tempo, 26-27 Januari 2019)

Maut Bercanda dengan Kolonel Saidi ilustrasi Koran Tempow.jpg
Maut Bercanda dengan Kolonel Saidi ilustrasi Koran Tempo 

DI DALAM keranda ia melihat wajahnya sendiri yang pucat. Tangannya terlipat ke dada. Ada perdebatan beberapa jam yang lalu apakah ia akan dipakaikan jas atau kain kafan saja. Di ujung perdebatan, adiknya yang sedari tadi diam dirundung kabung, berkata dingin, “Dia seorang kolonel.” Mereka mengerti dan pada akhirnya mencabut kapas yang telah disumpal ke hidungnya. Tubuhnya yang menyusut kurus itu dipakaikan jas dan sarung tangan putih sebagai bentuk penghormatan terakhir. Bau jeruk purut dan kemenyan menguar ke udara. Mereka bilang untuk membunuh bau.

Itu adalah akhir September dan hujan baru mulai reda. Orang-orang berkumpul. Keluarga besar, kerabat, dan beberapa mantan anak buahnya dengan uban yang kini menguasai kepala. Wajah-wajah tampak berkabung. Di sudut ruangan ada seorang lelaki berjubah berdiri. Ia memegang surah yasin di tangan kanannya. “Kolonel pergi dalam damai, Tuhan memberkati,” ia meyakinkan orang-orang. Di dalam kerumunan hadirin, Kolonel Saidi dimuliakan.

Seorang lelaki menunduk melihat jam yang melingkar di tangannya. Sudah pukul 11 pagi. Beberapa saling berbisik. Mereka menunggu satu orang lagi tiba sebelum melakukan pemakaman, yaitu Linda, istrinya. Dia telah pergi ke pulau seberang mengurus bisnis perkebunan beberapa hari yang lalu dan sedang dalam perjalanan saat ia mendengar kabar bahwa Kolonel mengembuskan napas terakhir. Tidak ada duka mendalam. Malah, karena sudah bosan mengurus Kolonel, dalam hati ia merasa lega. Selain pula fakta bahwa diam-diam ia memang telah jatuh cinta pada lelaki lain.

Sejak berbulan-bulan sebelumnya, Kolonel telah berjuang melawan penyakit yang menggerayangi tubuhnya. Tidak ada yang tahu, sebenarnya itu bukanlah stroke. Seorang dokter yang ia percayakan untuk merawatnya diam-diam menemukan kenyataan bahwa Kolonel diserang penyakit laten raja singa. Hari itu, sembari terbaring di ranjang, Kolonel memberi isyarat tangan. Dokter menunduk mendekatkan telinga ke arah mulutnya dan mendengar ia berkata, “Jangan sampai ada yang tahu,” bibir Kolonel pucat dan bergetar.

Advertisements